Etika Bagi Para Pencari Nafkah (Kajian Islam ilmiah tematik)

Nusantara115 views

Bogor – koranprogresif.co.id – Para pencari nafkah harus yakin kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, sebelum mulai bekerja. Harus diingat bahwa rizki berada di ‘tangan’ Allah, sehingga tak perlu khawatir akan berkurang, kekurangan, atau habis.

Para pencari nafkah seperti pedagang, karyawan dan pengusaha harus memiliki prinsip-prinsip atau etika, termasuk yakin kepada Allah. Yakin kepada Allah dan berilmu adalah prinsip sebelum para pedagang, karyawan dan pengusaha mulai mencari nafkah.

Harus diyakini bahwa Allah-lah yang memberi rizki bagi semua makhluk, termasuk manusia, dan ini harus ditanamkan dalam hati dan pikiran agar tidak terjatuh ke dalam kesyirikan.

Rizki dalam bentuk harta adalah karunia terbaik dari Allah bila dikendalikan dan diatur oleh orang sholih. Harta tersebut pastinya akan dikelola dan digunakan untuk kebaikan, seperti bersedekah, berkurban, atau menunaikan haji dan umroh.

Nabi Muhammad pernah menyatakan, “Sebaik-baik harta adalah yang dimiliki oleh orang sholih”, yaitu mereka yang aqidahnya baik dan paham sekali bagaimana mengelola harta yang dimilikinya.

Harta yang dimiliki tidak terlalu dipikirkan dan hanya sampai di tangan saja, tidak masuk ke dalam hati. Ini adalah konsep harta yang diyakini oleh orang sholih, yakni orang yang beriman kepada Allah tatkala dia memegang harta.

Jangan kemudian tatkala diberikan harta oleh Allah jadi kepikiran dalam sholatnya dan tidak khusyuk. Orang yang beriman itu pandai menempatkan hartanya dan tidak menempatkannya dalam hati. Orang sholih membelanjakan hartanya di jalan Allah dan tidak menumpuk harta. Tapi juga tidak pelit.

Allah menyebutkan harta itu adalah “fadlullah” atau karunia dari-Nya, namun di sisi lain atau pada waktu yang bersamaan Allah mengingatkan kita untuk waspada dan hati-hati terhadap harta, karena adanya fitnah harta. Nabi juga penah menegaskan, “Sesungguhnya setiap ummat itu memiliki ujian, dan ujian ummatku adalah harta.”

Al Imam Mabruri rahimahullah ta’ala menyatakan, maksud dari sabda Nabi tersebut adalah harta punya “kesesatan” dan “kemaksiataan” masing-masing dan ummat diberi ujian oleh Allah dengan harta.

Maksudnya, harta itu bisa menyebabkan kita menjadi lalai, tidak lagi fokus beribadah, dan tidak fokus saat membaca Al-Quran karena memikirkan harta saja, dan akhirnya menggadaikan semua ibadah untuk mendapatkan harta hingga lupa akan urusan akhirat.

Dalam surat Al-Fajr, ayat 20, disebutkan, “Dan kamu mencintai harta benda secara berlebihan”. Ditambahkan oleh Nabi: “Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, dia tentu ingin lagi yang kedua. Jika dia diberi yang kedua, dia ingin lagi yang ketiga.”

Dalam kaitan ini, banyak orang yang gagal dalam menghadapi ujian harta. Sedikit sekali mereka yang bersyukur kepada Allah yang nikmatnya tak terhitung oleh ‘kalkulator’ manusia. Maka kata Allah, orang-orang yang berkualitas dan yang bersyukur itu sedikit.

Saat Allah menguji manusia dengan harta, ini tidak saja ditujukan kepada orang kaya, melainkan juga kepada orang miskin. Jadi, ujian harta itu untuk semua manusia.

Tapi banyak orang mengira jika Allah memberi harta yang banyak kepadanya, itu pertanda Allah mencintai dia. Sebaliknya, sebagian orang mengira jika Allah mengurangi rizkinya, itu pertanda Allah sedang menghinakannya.

Allah memberi rizki kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya. Allah memberikan harta yang melimpah kepada Nabi Sulaiman ‘alaihi salam dan Nabi Daud ‘alaihi salam. Namun Allah juga memberi harta yang melimpah kepada Qorun.

Nabi adalah sosok yang sederhana. Itu pilihan beliau untuk hidup sederhana, sementara para sahabat ada yang kaya dan ada yang miskin. Yang kaya antara lain Abu Bakar radhiallahu ‘anhu (R.A.), Umar R.A., Utsman R.A, Abdurrahman ibn Zubair R.A, Abdurrahman bin Auf R.A.

Sementara itu, sahabat yang miskin antara lain Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu (R’A’), Abu Hurairah R’A’, Ashabus Suffah R’A’.

Mereka tidak melirik kepada sahabat-sahabat yang kaya karena yang penting bagi mereka adalah ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah dalam keadaan miskin maupun kaya.

Kata Nabi, jika seseorang sedang diuji dengan kemiskinan, dia akan bersabar kepada Allah, dan ketika dia mendapat kenikmatan karunia dari-Nya, dia bersyukur. Para pencari nafkah harus ingat bahwa rizki berada di tangan Allah, sehingga tidak akan berkurang atau habis.

Dalam riwayat ‘Aisyah radyallahu ‘anha (R.A.) sepeninggal Nabi disebutkan bahwa beliau yang mulia kerap kali mendapatkan hadiah satu karung gandum dan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Jika ada orang yang datang ke rumahnya, beliau memberi sedekah gandum tersebut.

Luar biasanya, gandum itu tidak habis-habis, padahal dipakai terus menerus oleh ‘Aisyah R.A. yang dermawan dan yang lebih mementingkan orang lain sepeninggal Nabi.

Etika selanjutnya adalah bahwa, para pencari nafkah harus bertaqwa kepada Allah. Para pedagang yang jujur itu bersama nabi, orang yang sidiq dan para syuhada. Kejujuran itu datangnya dari ketaqwaan.

Kata Nabi, dunia ini milik empat golongan, yaitu seseorang yang Allah berikan ilmu dan harta, lalu dia bertaqwa kepada Allah, menyambung silaturahim, dan mengetahui hak-haknya Allah. Orang-orang golongan ini adalah yang paling penting kedudukannya di sisi Allah karena menempatkan harta di tempat yang baik di jalan Allah.

Golongan yang kedua adalah orang yang diberi ilmu tetapi tidak diberi harta. Kemudian orang itu berkata bila aku punya harta aku akan melakukan seperti amalan yang dilakukan oleh si fulan, yaitu bersedekah, mengumrohkan orang lain, ingin punya halaqah Al-Qur’an dan tahfidzul Qur’an gratis. Karena niat baiknya itu, dia dan orang yang pertama mendapat pahala yang sama.

Golongan yang ketiga adalah seseorang yang Allah beri harta, tapi tidak diberikan ilmu. Orang ini akan menghabiskan harta tanpa ketaqwaan kepada Allah, dan golongan keempat adalah orang yang tidak memiliki harta dan ilmu.

Orang itu akan mengatakan, “Andai punya harta, aku akan melakukan amalan seperti yang dijalankan si fulan. Kalau punya harta, aku ingin bermaksiat seperti dia. Karena niatnya buruk, keduanya sama-sama dalam kondisi berdosa.

Etika berikutnya adalah, menjadikan nafkah sebagai sarana mencari akhirat. Jangan terbebani dengan nafkah yang kita berikan kepada istri dan anak-anak, karena Allah yang memberi rizki. Tugas kita adalah mencari nafkah yang halal dan bertaqwalah kepada Allah.

Selanjutnya, para pencari nafkah harus mengambil sebab walaupun kecil. Ketika kita mencari nafkah jangan gengsi dengan sesuatu yang kecil. Berikhtiarlah walaupun itu sederhana. Ambil sebabnya dulu, kita kerja dulu sebelum Allah memberi rizki.

Teladan dalam berikhtiar ada dalam kisah Maryam R.A. yang sedang mengandung dan diperintahkan oleh Allah untuk menggoyang pohon kurma agar buahnya yang masak jatuh.

Menariknya di sini adalah bahwa, menggoyang pohon kurma bagi seorang yang sedang hamil adalah perkara yang luar biasa susah dan hampir tidak mungkin membuat kurma itu jatuh.

Namun Allah perintahkan Maryam R.A. supaya mengambil sebab dan tidak banyak bertanya. “Masalah hasil, Allah yang memberi.”

Apa yang harus kita perhatikan adalah bahwa Allah terkadang memberi rizki yang datangnya bukan dari usaha kita, tapi dari keadaan lain, seperti contoh lain tentang kisah Hajar R.A. bersama Nabi Ismail AS.

Yang melakukan usaha kesana-kemari sampai tujuh kali (sa’i) adalah Hajar R.A. untuk mencari air dan tidak mendapatkannya. Hajar R.A. diperintahkan untuk berihtiar dulu, dan Allah-lah yang memberi rezeki (air) dari arah yang tidak disangka-sangka, yaitu dari Nabi Ismail yang menjejak-jejakkan kakinya ke pasir dan keluarlah air.

Hal ini menunjukkan bahwasannya kita diminta untuk berikhtiar terlebih dahulu, sebelum Allah SWT memberikan rizki, sesuai harapan kita.

*Materi ini disampaikan oleh Pendakwah Ustadz Abu Zaidan Fillah Lc, dalam kajian ilmiah ‘Etika Mencari Nafkah Agar Tidak Terpapar Fitnah Harta’ yang digelar oleh Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) di Masjid Al-Ghozy, Bogor, belum lama berselang.

 

 

Berita Lainnya