Enam Pengajuan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Restorative Justice Disetujui JAM-Pidum

 

Banjarmasin – koranprogresif.co.id – Berdasarkan keadilan restoratif, Jaksa Agung RI melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM-Pidum), Dr. Fadil Zumhana menyetujui 6 (enam) permohonan penghentian penuntutan, Senin (26/02/24).

Kapuspenkum Kejaksaan Agung, Dr Ketut Sumedana pada siaran Pers yang diterima oleh koranprogresif.co.id melalui Kasi Penkum Kejati Kalsel, Yuni Priyono, SH, MH menyebutkan, enam Pengajuan Penghentian Penuntutan perkara yang disetujui oleh JAM-PIDUM yaitu:
1. Tersangka Febiana Oroh alias Eva dari Kejaksaan Negeri Minahasa, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan,
2. Tersangka Sukarman als Kremek bin Arjo Sentono (Alm) dari Kejaksaan Negeri Klaten, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian,
3. Tersangka Sutarji bin Alm. Suhar dari Kejaksaan Negeri Semarang, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan,
4. Tersangka Junaedi alias Dedi bin (Alm) Mansur dari Kejaksaan Negeri Samarinda, yang disangka melanggar Pasal 480 Ayat (1) KUHP tentang Penadahan,
5. Tersangka Tamrin bin Daeng Talli dari Kejaksaan Negeri Samarinda, yang disangka melanggar Pasal 480 Ayat (1) KUHP tentang Penadahan,
6. Tersangka Azhar alias Degur dari Kejaksaan Negeri Lombok Tengah, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.

Alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan antara lain:
– Telah dilaksanakan proses perdamaian dimana Tersangka telah meminta maaf dan korban sudah memberikan permohonan maaf,
– Tersangka belum pernah dihukum,
– Tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana,
– Ancaman pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun:
– Tersangka berjanji tidak akan lagi mengulangi perbuatannya,
– Proses perdamaian dilakukan secara sukarela dengan musyawarah untuk mufakat, tanpa tekanan, paksaan, dan intimidasi,
– Tersangka dan korban setuju untuk tidak melanjutkan permasalahan ke persidangan karena tidak akan membawa manfaat yang lebih besar,
– Pertimbangan sosiologis,
– Masyarakat merespon positif.

Selanjutnya, JAM-Pidum memerintahkan kepada Para Kepala Kejaksaan Negeri untuk menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif sesuai Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum. (MN).

Berita Lainnya