oleh

TANGERANG DARURAT BANJIR, DAMPAK EKSPLOITASI ALAM

-Opini-103 views

Oleh: Abdul Haris

Jakarta – koranprogresif.co.id – Awal Februari menjadi hari tak terlupakan. Bukan karena curah hujan yang begitu deras dan lama. Melainkan soal banjir dan genangan air. Di mana-mana. Mulai perumahan, sawah-sawah, bahu jalan, sampai perkampungan.

Titiknya begitu banyak. Hampir setiap wilayah. Tidak hanya itu, beberapa perumahan yang sebelumnya tidak banyak terdampak, kini begitu pilu. Banjir tahun ini merata. Sebarannya hampir di seluruh kecamatan. Barangkali sebab intensitas yang begitu tinggi.

Tepatnya, Senin, 03 Februari 2020. Hujan begitu deras, mulai dini hari sampai jelang sore. Akibatnya terjadi banjir di beberapa titik. Merata se-Tangerang. Jumlahnya barangkali lebih dari 100 lokasi. Sebuah angka yang tidak sedikit.

Tidak seperti biasa, banjir kali ini begitu parah. Padahal, sebelumnya, jika pun ada, tidak begitu luar biasa. Kali ini sangat dahsyat. Genangan air sampai sebahu orang dewasa. Bahkan ada yang di atas 1 meter. Di Balaraja, ada pabrik yang juga terkena banjir. Padahal sebelumnya tidak pernah.

Melihat penomena ini, berarti ada tata kelola kota yang salah. Ada semacam prosedur terabaikan oleh pemerintah daerah kabupaten Tangerang. Banjir kali ini memberi sinyal, ada semacam salah urus soal alam dan konsep pembangunannya.

Salah satu dari dampak banjir adalah soal ruang terbuka hijau yang begitu minim. Ditambah, industrialisasi yang sangat cepat. Merubah sawah menjadi beton. Menghabiskan tanah untuk perumahan. Pada akhirnya, serapan air begitu lamban. Menggenang dan menjadi petaka. Bagi Tangerang juga Banten.

Beginilah akibatnya, apabila lahan hijau terus dibabat habis. Pasti, salah satunya memiliki impack pada banjir yang terus-menerus dari kerusakan lingkungan. Baik disengaja atau tidak. Hilangnya RTLH penyumbang paling besar terjadinya banjir kali ini.

Secara filosopis, jelas bahwa pembabatan lahan hijau akan terjadi impact pada banjir. Lahan hijau itu akan menahan air hujan turun ke tanah sehingga tidak terjadi penumpukkan air di permukaan. Di sisi lain, lahan hijau yang banyak pepohonan akan menyerap air mengendap di tanah. Dan kemungkinan kecil tidak terjadi banjir, sehingga air tidak meluap.

Selanjutnya, apabila lahan hijau terus dibabat untuk dibangun pabrik dan perumahan, maka bisa dipastikan akan terjadi banjir terus-menerus. Genangan air memang banyak faktornya, termasuk soal sampah. Tapi serapan air adalah ruh dari bagaimana kemudian banjir tidak terjadi.

Pemda Tangerang harus memiliki perhatian besar soal yang satu ini. Banjir sudah menjadi problem besar di kota dengan julukan 1001 industri. Persoalan tata kelola harus memikirkan dampaknya. Termasuk soal sampah. Yang juga menyumbang besar terjadinya banjir.

Memang benar, Bupati Tangerang harus menyiapkan lapangan kerja untuk masyarakat, tapi tidak melulu membangun pabrik dan membabat habis lahan hijau. Tentu banyak cara selain dua tersebut. Saya kira pabrik dan perumahan sudah harus betul-betul dibatasi. Agar anak-cucu warga Tangerang masih bisa terwarisi lahan sebagai tempat tinggal.

Selain itu, pemerintah harus mengambil dampak yang paling kecil. Sehingga setiap mengambil kebijakan tidak merugikan masyarakat. Industri memang penting. Tapi menjaga alam jauh lebih penting. Perumahan baik, tapi keberlangsungan masa depan warga Tangerang jauh lebih baik.

Kini, saatnya kesadaran ekologis menjadi bagian dari kita semua. Terlebih pemerintah. Negara tidak perlu mengejar angka-angka dan nominal besar dalam struktur APBD. Jangan karena hanya ingin mendapat pemasukan besar, semua laham dikomersilkan.

Bupati harus juga bijak. Memikirkan nasib masa depan warga Tangerang. Jika setiap lahan habis menjadi industri, bagaimana nasib masyarakat tahun 2040? Banjir akan terus membesar, jika setiap pembangunan tidak memiliki landasan cinta lingkungan.

Penulis adalah: Mahasiswa STIE Insan Pembangunan, Aktif sebagai Kader HMI.

News Feed