oleh

POLDA KALSEL, TETAPKAN DIRUT CBA SEBAGAI TERSANGKA

-TNI Polri-207 views

 

 

Kalsel – koranprogresif.co.id – Meski dengan rentang waktu yang panjang,  penyidikan kasus runtuhnya Jembatan Mandastana Di Kabupaten Barito Kuala ,Kalimantan Selatan yang ditangani oleh  Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalsel membuahkan hasil.

 

Untuk sementera, Polda Kalsel menetapkan pihak  penyedia barang / jasa  yaitu  Direktur Utama PT Citra Bakumpai Abadi (CBA) yang bernama Rusman Aji sebagai tersangka.

 

Kontraktor jembatan ini disangkakan telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 16,3 miliar, dari total proyek Rp 17,4 miliar  Alokasi dana  APBN-Perubahan tahun anggaran 2015.

Wakil Kepala Polda Kalsel, Brigjen Pol Aneka Pristafuddin mengungkapkan, penetapan tersangka ini berdasar alat bukti yang cukup. Bahkan, berkas perkaranya sudah P-21 terhitung pada 22 November 2018 lalu, dan telah dikirim ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalsel.

 

“Untuk penyidikan kasus ini, kami sudah meminta keterangan tiga saksi ahli dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) serta lainnya, dan 32 saksi lainnya. Tersangka diduga telah melakukan pengurangan volume atau kuantitas pekerjaan pada tiang pancang. Tersangka juga melakukan pelaksanaan konstruksi tidak sesuai dengan teknis atau tidak sesuai spesifikasi sehingga gagal konstruksi,” ucap Wakapolda Kalsel, Brigjen Pol Aneka Pristafuddin didampingi Direktur Reskrimsus Polda Kalsel, Kombes Pol Rizal Irawan dalam jumpa pers di Markas Ditreskrimsus Polda Kalsel, Kompleks Bina Brata, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (26/11/2018).

 

Dari hasil penyelidikan, Wakapolda Kalsel mengungkapkan, tersangka sengaja melakukan pengurangan volume pada tiang pancang dan mutu pondasi jembatan pada pilar 2, hingga akhirnya runtuh pada abudment 1 dan 2, serta pilar 4, “Bahkan, jembatan itu dinyatakan tidak aman untuk kondisi ideal layaknya sebuah jembatan,” kata Aneka.

 

Atas fakta dan alat bukti yang ada, Aneka menegaskan tersangka dijerat dengan Pasal 2 jo Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ke-1 KUHP.

 

“Yang pasti, kasus dugaan korupsi pembangunan Jembatan Mandastana yang ambruk ini terus berjalan. Kemungkinan ada tersangka lain akan menyusun dengan berkas yang berbeda,” tutur Aneka.

 

Robohnya Jembatan Mandastana sepanjang 100 meter yang jadi penghubung empat desa yakni Desa Tanipah, Desa Sungai Antasan Sagara, Desa Tatak Layung, Desa Ramania di Kecamatan Mandastana, Kabupaten Batola, menggunakan dana APBN-P tahun 2015 sebesar Rp 17,4 miliar, pada 17 Agustus 2017.

 

Kasus gagalnya konstruksi ini pun di atensi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Perkara ini sudah dinyatakan lengkap P-21 oleh Kejati Kalsel, tinggal melanjutkannya ke tahap kedua,” pungkasnya. (MN/ JR)

News Feed