oleh

Pengamat Kesehatan: Cara Penyuntikan Jokowi Tidak Masalah

-Nasional, Sosbud-1.378 views

Jakarta – koranprogresif.co.id – Sehari setelah Program Vaksin Covid-19 Nasional dilaksanakan dengan pemberian vaksinasi kepada Presiden Jokowi dan sejumlah tokoh, muncul sebuah narasi yang beredar secara luas melalui media sosial.

Dalam narasi tersebut, dikatakan bahwa, cara penyuntikan vaksin kepada Presiden salah, beresiko gagal dan harus diulangi.

‘’Injeksi vaksin Sinovac, harusnya intramuskular (menembus otot). Untuk itu, penyuntikkan harus lah dilakukan dengan tegak lurus (90 derajat). Dan memakai jarum suntik untuk ukuran volume minimal 3 cc (spuit 3cc). Tetapi yang menyuntik anda tadi siang memakai spuit 1 cc dan tidak tegak lurus 90 derajat. Hal tersebut menyebabkan vaksin tidak menembus otot sehingga tidak masuk kedalam darah. Suntikan vaksin yang dilakukan pada anda tadi siang hanyalah sampai di kulit (intrakutan) atau dibawah kulit ( sub kutan ). Dan itu berarti vaksin tidak masuk ke darah,’’ demikian bunyi narasi yang diklaim merupakan tulisan seorang tenaga kesehatan.

Namun, hal itu disanggah oleh pengamat kesehatan, Apt Drs Julian Afferino, MS. Menurut Julian, untuk seseorang dengan kondisi tubuh seperti Jokowi, maka penyuntikan yang dilakukan oleh dr Abdul Muthalib, Wakil Ketua Dokter Kepresiden tersebut, tidak ada masalah.

‘’Pak Jokowi berat badannya kira-kira 60 kg, jadi agak kurus. Untuk pasien dengan kondisi tubuh seperti pak Jokowi ini cukup menggunakan needle ukuran 5/8 – 1 inci seperti yang terlihat dalam video saat pak Jokowi divaksin. Memang prosedurnya harus 90⁰, akan tetapi penyuntikan intra muskular pada otot deltoid bisa dilakukan seperti yang dilakukan pada Jokowi. Hal itu karena di area itu deltoid muscle menonjol. Jadi untuk subyek kurus seperti Jokowi cara penyuntikan yang dilakukan oleh dokter tersebut tidak masalah. Kalau saya perhatikan melalui video, needle yang digunakan yang ukuran 1 inci. Jadi sudah sesuai standar penyuntikan vaksin untuk subyek dengan profile tubuh seperti Jokowi. Tidak ada masalah, tidak gagal dan tidak perlu diulang,’’ ungkap apoteker lulusan Fakultas Farmasi UGM ini.

Deltoid muscle atau otot deltoideus adalah otot yang membentuk struktur bulat pada bahu manusia. Dinamakan otot deltoideus sebab bentuknya mirip seperti alfabet Yunani, Delta (segitiga). Di otot inilah sering digunakan untuk melakukan suntikan intra-muskular.

Hal lain yang menarik dari narasi tersebut, adalah bahwa respon imunitas yang dihasilkan oleh vaksinasi Covid-19, hanyalah antara 3-6 bulan. Oleh karena itu harus dilakukan berulang minimal 2 kali setahun. Sementara vaksin berulang bukan tanpa resiko.

Selain kemungkinan terjadinya ADE, sehingga virus-virus mati yang ada dalam vaksin Sinovac itu akan dengan mudah masuk ke dalam sel-sel organ penting (jantung, otak dan ginjal). Kejadian ini bisa mengakibatkan kerusakan organ-organ vital tersebut bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Benarkah?

‘’Ada kemungkinan seperti itu, karena memang virus inactivated tersebut masa perlindungannya singkat. Tetapi dalam masa yang singkat itu diharapkan sudah mampu memutus rantai penularannya,’’ ungkap Julian.

Antibody Dependent Enhanchment (ADE) bisa saja terjadi. Salah satu mekanisme terjadinya ADE melalui pembentukan Antibody Non-neutralyzing, artinya setelah vaksinasi maka tubuh memberi respon dengan terbentuknya antibodi akan tetapi antibodi yang terbentuk hanya berikatan dengan virus tanpa melumpuhkannya. Kabar baik adalah selama fase uji klinis tanda-tanda ke arah terjadi ADE tidak ditemukan dan juga setelah uji klinis fase 3 selesai dengan dikeluarkannya EUA oleh BPOM, monitoring berlanjut ke fase 4 (post marketing surveillance) untuk terus memonitor kemungkinan dampak buruk yang mungkin terjadi.

Menurutnya, memang itulah tujuan vaksinasi yang diberikan untuk keadaan pandemi seperti sekarang ini. Selain untuk membentuk respon antibodi juga untuk memutus rantai penularan.

‘’Nanti para ahli epidemiologi akan mengamati hal itu. Insya Allah tidak akan divaksinasi terus seperti yang dikhawatirkan oleh banyak orang,’’ ujarnya optimis. (Red).

News Feed