oleh

Pengamat: Australia dan Komunitas Negara Melanesia, Diduga Menjadi Donatur OPM

Jakarta – koranprogresif.co.id – Pembantaian oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) mengakibatkan 31 nyawa melayang. Korban adalah pekerja pembangunan jembatan Habema-Mugi. Sebanyak 24 orang dibunuh pada Sabtu (1/12/2018) dan tujuh lainnya pada Minggu (2 Desember 2018).

Pegiat Forum Sejarah Damai Resolusi Konflik, Muh. Ichsan mengatakan, itu adalah bagian dari kekacauan yang sengaja diciptakan OPM menjelang akhir tahun mendekati natal tahun baru, serta pemilu 2019, dengan bantuan dana dari negara kawasan oceania, Melanesia mereka (red-OPM) semakin kuat melalui persenjataannya.

“Kuat dugaan persenjataan Organisasi Papua Merdeka saat ini semakin canggih sudah standar perang ala (NATO), dikarenakan ada donatur besar serta sokongan negara sahabat dikawasan itu, sebut saja Australia serta negara terhimpun dalam kawasan Melanesia,” diterima rilis, kamis (6/12/18)

Melanesia tergabung dalam 7 negara etnis tersebut sebagai berikut: Negara-negara yang termasuk ke dalam Melanesia yaitu:

Fiji, Papua Nugini.

Kepulauan Solomon.

Vanuatu.

Kaledonia Baru.

Timor Leste.

Samoa.

• Kep. Marshall

Australia (sebagian warga papua)

Mereka tak bosan mendesak dunia internasional untuk mendukung kampanye kemerdekaan wilayah yang menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Papua Barat.

Bahkan Perdana Menteri Vanuatu, Charlot Salwai pernah mengatakan bahwa rakyat Papua Barat harus diberi hak untuk menentukan nasib mereka atas terkekang dari kolonialisme.

Charlot juga meminta dukungan penduduk dunia untuk mendukung hak legal Papua Barat untuk menentukan nasib sendiri. Hal serupa juga dikatakan Pemimpin Solomon, Manasseh Sogavare.

Ditambahkan Ichsan, oleh karena itu sokongan dana dari negara kawasan tersebut patut diwaspadai Indonesia, pungkas Ichsan.

Negara Kawasan Oceania serta Melanesia sangat gembor melaksanakan aksi baik di kawasan maupun internasional dengan mengokong kemerdekaan Papua Barat karena ada ikatan sejiwa dan sedarah rumpunnya.

*Petisi dukungan Australia terhadap Papua Barat*

Pada tahun 1950-an, pemerintah Australia mendampingi pemerintah kolonial Belanda untuk meraih kemerdekaan Papua Barat. Pada tahun 1961, koloni tersebut memiliki benderanya sendiri, “Bendera Bintang Kejora”, bersama dengan pemerintah Papua. Namun begitu, ketika konflik meletus di Papua Barat pada tahun berikutnya antara Belanda dan Indonesia, PBB ikut campur tangan.

Perjanjian yang ditengahi oleh PBB memberikan kendali sementara bagi koloni terhadap Indonesia, dan bermaksud untuk mengadakan referendum untuk menentukan pilihan masyarakat Papua. Namun semuanya berjalan tidak sesuai yang direncanakan.

Adapun Anggota Komisi I DPR, Arwani Thomafi mengaku prihatin atas peristiwa penembakan terhadap 31 pekerja Istaka Karya yang tengah mengerjakan proyek jembatan di Trans Papua di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua. Pihak aparat harus segera mengendalikan keadaan serta memastikan soal jumlah korban mengingat kesimpangsiuran informasi.

“Peristiwa ini menjadi ancaman serius terhadap kedaulatan NKRI dan jalannya program pembangunan di Papua yang tengah digalakkan oleh pemerintah. Motif penyerangan itu sudah bukan lagi kriminal biasa tapi membuat teror bagi keamanan nasional dan ancaman terhadap NKRI,” jelasnya.

Saat ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta Panglima TNI dan Kapolri untuk menangani kasus penembakan pekerja pembangunan jalan di Papua. (Red).

News Feed