oleh

MUDIK YANG MENARIK PERHATIAN BANGET

-Nusantara-124 views

 

Oleh: Prof. Dr. KH. Ahmad Sutarmadi, Sesepuh Paguyuban Demak Bintoro Nusantara

Tangsel – koranprogresif.co.id – Istilah mudik zaman now bertambah menarik hati masyarakat Islam Jawa, dengan tersedianya tranportasi yang memadai, jalan tol yang telah terhubung dengan kota yang berdekatan dengan kampung tempat asal mereka, dan keluarga besar mereka. Tol pantura itu lurus dan mulus sampai Semarang dan terus ke Solo.

Dari pendapatan atau keuangan para pemudik , pada umumnya adalah lebih baik dibanding 10 yang lalu.

Disamping itu, sudah banyak mereka yang memiliki kendaraan pribadi, roda empat dan atau roda dua, yang memungkinkan mereka gunakan untuk mudik.

Pada mulanya istilah mudik itu hanya digunakan masyarakat Jawa Muslim yang bekerja di Jakarta. Pekerjaan mereka itu meliputi semua sektor, yang terbesar sampai yang terkecil.

Pada umumnya, orang Jawa tidak menolak pekerjaan apa saja, yang penting menghasilkan, meskipun hasilnya sangat kecil. Maka mereka katakan kita mudik ke Jawa, yang dimaksudkan ialah mudik ke Jawa Tengah atau Jawa Timur.

Pada umumnya juga mereka pekerja keras sepanjang tahun, maka saat datang hari Raya Idul Fitri, yang populer di kalangan mereka adalah hari lebaran, sebagai hari libur istimewa bagi mereka, lalu digunakan untuk mudik ke kampung asalnya, untuk melepas rindu dengan keluarga besar di kampung, sekaligus menyampaikan sungkem kepada para orang tua dan juga para sesepuh dikampungnya.

Pada hakekatnya mereka masih mempunyai hubungan emosional dengan orang tuanya, dengan kampung halamannya, sehingga kepulangan mereka ke kampung halaman bertemu dan sungkem keharibaan orang tuanya itu menjadi kewajiban moral, dan merupakan kebahagian yang tiada tara, maka kalau tidak dapat pulang, akan menjadi beban moral dan kekecewaan sepanjang tahun. Bukan hanya sekedar dirinya sendiri yang kecewa, tetapi beberapa pihak yang dikecewakan.

Mulai dipihak orang tua sangat sedih dan kecewa, bahkan mungkin saja tiba-tiba mendadak menjadi pingsan, karena anaknya yang diharapkan pulang itu tidak kunjung datang. Orang tuanya mempunyai pertanyaan besar, bila anaknya itu tidak kunjung datang, lebih-lebih bila tidak pulang.

Pertanyaannya itu antara lain, apakah anaknya itu sakit, atau banyak urusan yang belum selesai, atau tidak mampu mendapatkan bekal pulang, atau apakah sudah lupa dengan orang tuanya, dan kampung halamannya, dan banyak lagi pertanyaan, kesemua pertanyaan dapat terjawab bila anaknya pulang.

Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pemikirannya, mungkin itulah penyebab orang tua pingsan, gara-gara anaknya tidak mudik.

Penulis sendiri merasakan hal itu, hal kesedihan orang tuanya, ibunya sebagai orang tua tunggal/seorang ibu, bila kakak penulis belum datang, sedangkan ia (penulis sendiri), sudah pulang terlebih dahulu.

Kondisi semacam itulah antara lain bahwa mudik semakin menjadi perhatian banget, dan menjadi siklus dalam kehidupaan masyarakat Jawa di Jakarta dan dimanapun mereka berada, demikian itu yang menjadi tekanan judul tulisan ini, karena banyaknya alasan orang harus mudik. Bila saja anaknya datang, mudik ke haribaannya, haribaan orang tua, maka timbullah rasa kebahagiaan yang luar biasa tida taranya, rasa bahagia yang mendalam, dari kedua belah pihak, hal itu tampak sekali pada raut wajah mereka, terutama wajah orang tuanya yang mulai menua, yang menghabiskan umurnya hidup di kampungnya.

Para pembaca dapat membayangkan, bagaimana apabila yang menunggu kedatangan pemudik ke kampung halamannya itu, adalah anak-anak meraka yang orang tuanya bekerja di Jakarta, atau bapaknya saja, atau ibunya saja, dengan harapan mereka membawa oleh-oleh keperluan lebaran bagi anak-anak mereka, dan sangat mengharapkan mereka orang tuanya itu juga membawa uang hasil kerja orang tua mereka, untuk lebaran anak-anak mereka.

Dapat dibayangkan, betapa sedih dan pilunya, kekecewaan mereka yang di alami, jika orang tuanya itu tidak datang, tidak mudik, dapat dibayangkan betapa sedihnya, terasakan kondisi malang itu menimpa mereka.

Tentu saja kondisi semacam itu terjadi ditempat lain, selain di Jakarta dapat dibayangkan hampir sama, termasuk para Tenaga Kerja Wanita maupun Priya yang berkeja di Singapura, Malaysia, dan juga di Honkong, kemudian lebaran tidak mudik. Kejadian demikian itu dapat dikategorikan “Tragedi mudik menjelang Lebaran”.

Demikianlah gambaran-gambaran kebahagiaan bila suatu keluarga dapat mudik, dan tentulah terjadi mental sok, sekaligus kesedihan yang sangat mendalam, bila saat mudik itu tidak terlaksana bagi suatu keluarga dalam masyarakat kita.

Sekarang istilah mudik itu digunakan secara luas, bukan hanya bagi orang Jawa Muslim yang bekerja di Jakarta, tetapi digunakan hampir seluruh lapisan masyarakat Muslim di wiyalah Nusantara ini.

Dari Sumatera, dari Kalimantan, dari Sulawesi, dari Indonesia bagian Timur, bila menjelang datangnya hari lebaran, mereka pulang ke Jawa, mereka sebut mudik.

Bahkan mereka masyarakat dari Sumatera, Kalimantan Sulawesi, Indonsia Timur, bila mereka pulang libur lebaran, ke kampung halaman di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, di Indonesia bagian Tmur mereka mengatakan mudik juga.

Oleh karena itu, kata mudik telah menjadi istilah bagi bangsa Indonesia. Kalau dibandinkan dengan budaya Amerika Serikat, mungkin dapat disandingkan dengan istilah “Thank Giving” bulan.

Bila didengar dari pembicaraan para pemudik itu, atau wawancara dengan mereka, atau mendengar cerita yang mudik, ataupun mendengar dari rekan atau teman pemudik, yang sukses bekerja di Jakarta, atau yang belum sukses, atau masih mengalami kehidupan yang sulit, dapat dikemukakan dan digambarkan beberapa tujuan mudik, dan keadaan situasinal para pemudik itu sebagai berikut:

Mereka sebagian besar para pemudik itu akan sungkem, menyampaikan rasa hormat kepada orang tuanya, atau dengan sesepuh yang terpisah cukup lama, dalam kerangka berbakti kepada orang tua ( (بر الوالدين juga disebabkan karena lapangan pekerjaannya di Jakarta, atau sekarang dapat dikatakan ditempat yang berjauhan. Mereka menyampaikan terima kasih, kepada orang tua mereka, yang telah mendidik, mengembangkan kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Sekaligus menghungkan tali sillaturahim dengan orang tuanya, saudara-saudaranya, dan tetangga mereka, agar tersambung kembali.

Sebagai pembenarannya ialah sabda Nabi”من أراد أن يطول عمره وكثر ر زقه فليصل رحمه ) أو كما قال .
Barang siapa ingin umurnya panjang dan luas rizqinya, hendaklah senang bersillatur rahim.

Mereka sebagian besar para pemudik itu ingin berziarah kubur orang tuanya yang sudah meninggal, termasuk kubur kerabat dekat, ke makam para wali Allah, mendoakan semoga selalu mendapatkan rahmat dan kasih sayang serta rizqi kenikmatan dari Allah SWT di alam kuburnya. Mereka membayangkan, seolah-olah mereka menunggu kedatangan anak-anaknya atau umat ke alam kubur, dengan doa-doanya.

Dengan demikian perlu didatangi ke Makbarah/ Pekuburan, meskipun dari tempat yang jauh, harus mudik terlebih dahulu.

Perbuatan ziarah kubur itu, berarti mengingatkan, bahwa dirinya suatu saat akan menjadi penghuni alam kubur, disaat ajal telah menjelang, maka kehidupan manusia harus diisi dengan amal kebajikan, menjauhi segala dosa dan kejahatan.

Sebagai pembenaran dari perbuatan ziarah itu hadis Nabi SAW:
كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها أو كما قال:
Dulu saya telah melarangmu berziarah ke tempat makam,/ kuburan, tetapi ketahuilah, maka sekarang ziarahilah kuburan itu! Hal itu menunjukkan bahwa ziarah kubur itu hukumnya, setelah iman kita sudah kuat).

Tujuan mudik itu sebagian mereka menunjukkan kepada orang tua dan sanak saudara, bahwa bekerja mereka di di Jakarta telah dapat terjadi peningkatan taraf hidup, dari sebelumnya.

Karena Allah SWT telah memberikan jalan rizqi yang mudah, usaha lancar, dan mendapatkan ridla Allah SWT.

Maka kepulangan mereka sekaligus, menyampaikan rasa kesyukuran kepada Allah dan kepada orang tuanya, bersedekah kepada keluarga dan anggota masyarakat, tetangga, dan membantu dana pembangunan masjid, serta open hause, menerima tamu lebaran dan memakan ketupat bersama masyarakat sesudah shalat Ied.

Model pemudik yang demikian itu, yang membuat saudara-saudara pemudik menjadi tertarik untuk mengadu nasib bekerja ke Jakarta, siapa tahu Allah memberikan jalan hidup yang lebih baik, seperti saudaraanya yang mudik, meskipun mereka memasuki perjuangan hidup di Jakarta dengan modal pas-pasan, baik tenaga phisik maupun ketrampilan yang diperlukan. Kata kunci pemudik bersyukur itu, sesuai dengan firman Allah SWT.:
لئن شكرتم لأزيدنكم ولإن كفرتم إن عذابى لشديد (القرأن)
Sunggguh-sungguh bila engkau bersyukur pasti akan saya tambah-tambah dan bila engkau ingkar, sesungguhnya siksa-Ku adalah sangat pedih” (al-Qur’an).

Demikianlah semoga mudik orang Jawa di Jakarta, dan bangsa Indonesia Muslim tahun ini 1440 H, dari manapun serta kemanapun, akan sukses (falah) sesuai dengan tujuan para pemudik.

Selamat para pemudik, selamat Lebaran, semoga kita dapat saling memaafkan.

News Feed