oleh

Makam Keramat KH. Sholih Sindo Demak, Santrinya Hingga Ke Malaysia

-Nusantara-1.629 views

Jakarta – koranprogresif.co.id – Sekitar 5 kilometer di belakang terminal Demak, Jawa tengah, terdapat sebuah makam dan bangunan tua mirip rumah panggung. Seluruh bangunan itu terbuat dari kayu jati yang usianya sudah ratusan tahun. Bangunan itu adalah pondok pesantren Sabilul Muttaqin Sindon, terletak di dusun Sindon Trimulyo, Kecamatan Guntur, Demak. Sedang makam di sebelah pesantren adalah makam K.H. Sholih Sindon, salah satu ulama penyebar agama Islam di Demak tahun 1875.

Kedalaman ilmu mbah Sholih termasyhur, santri-santrinya tersebar di berbagai daerah maupun manca negera. Tercatat Kyai Ishaq, anak sekaligus murid Kiai Sholih adalah penyebar agama Islam di Singapura dan Malaysia. Makam Kyai Ishaq Ipoh Perak, di Bagan Datoh Perak Malaysia sampai saat ini masih ramai diziarahi.

Pondok pesantren Sabilul Muttaqin Sindon terletak di dusun Sindon Trimulyo, Kecamatan Guntur, Demak. Lokasi pondok dan makam itu cukup terpencil. Meski begitu, nama Kyai atau mbah Sholeh Sindon dikenal masyarakat Demak dan sekitarnya, bahkan luar kota. Khaul Mbah Sholih yang diadakan tiap tanggal 15 suro yang dibarengi dengan mujahadah dan Istighotsah selalu ramai baik di wilayah Demak maupun Semarang.

Konon, di makam ini keinginan peziarah mudah terkabulkan. Selain menjalani laku ngalab berkah, makam mbah Sholih juga dikenal sebagai tempat ziarah para pejabat daerah. Terutama ketika mereka akan mengikuti pemilihan kepala daerah, bupati, lurah, kepala desa atau lainnya. Saat kunjungan peziarah paling banyak pada malam jumat. Khusus malam keramat ini, peziarah membanjir. Mereka ada yang berasal dari Sragen, Purwodadi, Solo, Pati, Semarang dan lainnya.

Peziarah berduyun-duyun berziarah mengingat karomah dan perjuangan Kyai Sholih dalam menyebarkan agama Islam. Semasa hidupya, Kyai Sholih dikenal sebagai Kyai yang sering membantu masyarakat kecil. Disamping itu juga, dikenal sebagai tokoh yang berani melawan penjajah belanda.

Kyai Sholih menyebarkan agama Islam dengan tujuan memberantas kebatilan yang dulu pernah merajalela di wilayah Demak. Pada masa itu, kebatilan merebak di sekitar Mranggen dan Demak. Para perampok dan begal berkeliaran tanpa ada yang ditakuti. Aksi kejahatan mereka bertambah parah karena di sekitar wilayah itu banyak bermunculan lokasi pelacuran.

Sejak mbah Sholih melakukan perjalanan spiritual ke berbagai daerah, lambat laun kejahatan di sekitar Demak dapat dikendalikan. Satu persatu begal yang suka merampok barang bawaan penduduk berhasil dilumpuhkan.

Mereka kemudian diwejang supaya kembali ke jalan yang lurus. Mereka diajak menekuni agama di pondok pesantrennya. Melalui pendekatan spiritual seperti itu, banyak penjahat yang berhasil disadarkan. Justru ketika mereka yang telah diberi gemblengan agama ketika kembali ke masyarakat dapat menjadi pendakwah.

“Tidak terhitung penjahat dan pembegal yang disadarkan mbah Sholih. Beliau benar-benar Kiai yang memiliki ilmu kedigdayaan tinggi,” ungkap Gus Ulin Nuha Azka yang merupakan keturunan ke -3 dari Kyai Sholih saat di hubungi via WA, Sabtu (3/11).

Berawal dari dari perjuangan gigih mbah Sholih menyadarkan kebatilan, namanya semakin banyak dikenal masyarakat. Semangat perjuangan yang dikobarkannya membuat penjajah yang hendak menyatroni Demak dibuat kalang kabut. Wilayah Demak selalu aman dan tenteram.

Balak

Di makam keramat mbah Sholeh Sindon, peziarah tidak boleh berbuat sembarangan. Peraturan itu juga berlaku di dalam masjid pesantren Sabilul Muttaqien. Seperti peristiwa yang pernah terjadi, mendadak seseorang yang berada di dalam masjid Sabilul Muttaqien mulutnya mendadak tidak normal, mencong, melenceng ke kiri seperti orang kena stroke. Sebelumnya orang tersebut terlebih dulu mengalami kejang-kejang.

Meski kejangnya hilang dan dapat pulih seperti sedia kala, tapi mulutnya tetap mencong. Kejadian aneh tersebut tidak hanya membuat warga miris tapi juga geli melihat mulut orang yang diperkirakan terkena balak itu. Sehingga ketika di ajak bicara, wajahnya menjadi lucu.

Ternyata diketahui , orang itu telah melanggar larangan yakni sengaja meludah di dalam masjid. Padahal larangan itu sudah berlaku sejak mbah Sholih masih hidup. Terlebih lagi jika larangan itu dilanggar sewaktu berada di makam mbah Sholeh.

“Siapa saja tidak diperkenankan meludah di dalam masjid pesantren. Sudah banyak yang terbukti, setiap kali meludah dengan sengaja di dalam masjid, mulutnya tiba-tiba “mencong”, ujar K.H. Nurhasim, salah satu pengurus pesantren.

Menurutnya, pantangan itu sekedar sebagai peringatan kepada siapa saja agar selalu bersikap sopan dan hormat ketika berada di dalam masjid dan pesantren. Bangunan tersebut merupakan tempat ibadah yang harus dijaga kesuciannya.

Jika mengalami hal aneh itu, penawarnya juga mudah, tidak jauh dari masjid yaitu di sumur masjid. “Jadi untuk menyembuhkan orang yang terkena sawab cukup mandi di sumur. Setelah diguyur air sumur, mulutnya akan normal seperti semula,” tandas Hasim.

Sumur tua yang kini telah ditutup dengan semen itu, konon umurnya sama dengan pesantren. Selain menyembuhkan orang yang kena tulah, Air sumur ini dapat untuk menolak santet atau pengaruh makhluk halus yang jahat. Sekaligus menyembuhkan orang yang kena guna-guna. Sehingga sumur itu selalu dijaga supaya tidak ada sampah yang masuk, Maka bagian atasnya ditutup dengan semen.

Sejak sumur itu dibuat sampai sekarang tidak pernah mengalami kekeringan. Sekalipun musim kemarau panjang, sumber sumur tetap memancar dengan deras. Lokasi di desa Sindon jauh dari laut, berdekatan dengan sungai. Tapi air yang keluar dari dalam sumur rasanya asin.

Kayu Gaib

Keanehan yang terjadi di komplek pesantren Sindon telah muncul sejak mulai membangun masjid. Ketika itu sekitar tahun 1800-an, orang tua mbah Sholih yaitu mbah Sulaeman mempunyai keinginan mendirikan masjid untuk keperluan ibadah dan mengaji warga Sindon.

Lokasi dipilih di dekat sungai besar, sebelah selatan sungai Wonosari, yang kebetulan banyak orang lalu lalang. Muncul peristiwa aneh, saat itu kayu untuk membuat bangunan masjid tiba-tiba datang dengan sendirinya, yakni dihanyutkan lewat sungai besar dan berhenti di depan bakal lokasi masjid. Padahal tidak diketahui siapa pengirim kayu gelondongan itu.

“Selama proses pembuatan, masyarakat banyak yang membantu mengerjakan. Tapi tidak diketahui darimana asal-usul kayu yang tiba-tiba sudah berada di sungai. Sebagai rasa syukur setiap hari selama pengerjaan selalu disembelihkan kambing yang sebagian dari bantuan warga,” ujar Gus Ulin.

Kesan mistis masjid itu begitu kuat, terbukti bangunan yang terbuat dari kayu jati itu belum ada yang keropos. Sehingga masih dapat menampung ratusan jamaah dan santri yang shalat. Konon karena karomahnya bangunan berbentuk rumah panggung tersebut tetap berdiri tegak, bahkan setiap hari digunakan untuk shalat berjamaah.

Bangunan berbentuk panggung yang memiliki tinggi 2 meter dari permukaan tanah itu sampai sekarang tidak pernah ambrol. Bangunannya juga tidak pernah runtuh. Kini masjid dan pesantren Sabilul Muttaqien telah terdaftar sebagai benda cagar budaya di kabupaten Demak.

Bantal Dompal

Perjalanan hidup Kyai Sholih Sindon mencerminkan kesederhanaan. Banyak tuntunan yang dipraktekkan sehari-hari seperti tidak pernah tidur di atas kasur dan selalu menyempatkan diri membaca Al Qur’an sebelum tidur.

Kebiasaannya tidak pernah tidur di kasur sudah dimulai sejak mulai tumbuh dewasa, tidak tidur di atas kasur maupun dipan didasari dari falsafah jawa yang mengingatkan kepada semua orang supaya eling dan waspodo sekalipun sedang tertidur pulas. Tidur tanpa alas kasur sama artinya dengan orang yang sedang menjalani laku tirakat.

Begitu pula yang dijalani mbah Sholih, dia selalu mengingatkan dirinya sendiri untuk selalu prihatin. Selain tidak tidur di atas kasur, dia juga tidak pernah memakai bantal. “Semasa hidupnya, Kyai Sholih hanya mengenakan tikar dan bantal dompal yakni batang kayu waru. Kebiasaan itu berlangsung sampai meninggal dunia,” ujar Ulin.

Mbah Sholih paling senang tidur di pondok. Seluruh bangunan pondok yang terbuat dari kayu menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat. Bahkan bisa seharian di dalam pondok pesantren. Selain sibuk mengajar para santri, juga beristirahat dan tidur di situ.

Kyai Sholih Sindon memiliki hubungan dekat dengan Mbah Ganjur Groto Purwodadi, Mbah Muslim Mranggen, Mbah Nawawi Banten dan Mbah Soleh Darat, Semarang. Ulama-ulama besar pada masanya itu, sama-sama mempunyai misi dakwah , mengajarkan tentang makrifat sebagai tuntunan hidup.

Para santri yang lulus pesantren banyak yang menjadi Kyai dan ulama besar. Kebanyakan mereka tinggal di Jawa Tengah dan di Jawa Barat. Mbah Sholeh Sindon meninggal dalam usia 125 tahun. Atas permintaannya, di makamkan di masjid pondok pesantren Sabilul Muttaqien, dusun Sindon Trimulyo, kecamatan Guntur, Demak. Pesantern itu kemudian diwariskan kepada keturunannya.

Singapura-Malaysia

Perjalanan hidupnya cukup berwarna, Sebelum menetap di Sindon dan mengamalkan ilmunya, Kiai Sholih sempat berkelana di Singapura dan Malaysia selama 9 tahun. Kemudian ikut keluarga di Jombang. Di negeri jiran itu. Mbah sholih banyak menimba ilmu dari ulama dan Kiai setempat.

Berkat kekayaan khasanah ilmu mbah Sholeh, banyak santrinya yang berasal dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Brunei. Tercatat Kyai Ishaq, anak sekaligus murid Kyai Sholih adalah penyebar agama Islam di Singapura dan Malaysia. Konon Kiai Iskhaq ini memiliki keistimewaan, jika hujan tidak pernah basah dan kehujanan meski di tempat terbuka. Ciri khasnya berbaju hitam, celana hitam dan caping lebar, mempunyai ilmu saifi angin yaitu ilmu yang bisa memperpendek jarak tempuh.

Makam Kyai Ishaq Ipoh di Bagan Datoh Perak, Malaysia sampai saat ini masih ramai diziarahi. “Keturunan Kiai Ishaq sampai sekarang masih ada di Malaysia,” papar Ulin. (Red/Odhy)

News Feed