oleh

Lantamal XII Pontianak Gelar Nonton Bareng Pagelaran Wayang Orang “Pandawa Boyong” Bersama Forkopimda Provinsi Kalbar

-Mitra tni-54 views

Lantamal XII – Koranprogresif.co.id, Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) XII Laksamana Pertama TNI Suharto, S.H., M.Si.(Han) bersama Forkopimda Provinsi Kalimantan Barat, Pejabat Utama, Kadis dan Kasatker serta Prajurit Lantamal XII menghadiri acara nonton bareng Pagelaran Wayang Orang yang berjudul “Pandawa Boyong”. Kegiatan berlangsung di Balai Room Hotel Mercure Jalan Ahmad Yani Kota Pontianak, Minggu malam (15/01/2023).

Acara nonton bareng Pagelaran Wayang Orang yang berjudul “Pandawa Boyong” ini merupakan rangkaian dari acara HUT Dharma Samudera Tahun 2023 yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat dengan pemeran utama tokoh- tokoh pewayangan diperankan langsung oleh Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., beserta Ny. Vero Yudo Margono dan Kapolri serta Kepala Staf Angkatan Darat, Laut, Udara serta Perwira Tinggi Angkatan Laut.

Dalam Pagelaran Wayang Orang “Pandawa Boyong” ini Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono berperan sebagai Bima Sena dan Ketua Umum Dharma Pertiwi yaitu Ny. Vero Yudo Margono berperan sebagai Dewi Nagageni.

Sementara itu, Kapolri Jendral Polisi Listyo Sigit Prabowo berperan sebagai Prabu Puntadewa, Kepala Staf Angkatan Darat Jendral TNI Dudung Abdurrahman berperan sebagai Batara Guru, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali berperan sebagai Batara Baruna, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Fajar Tri Prasetyo berperan sebagai Eyang Abiyasa, Wakasad Letjen TNI Agus Subiyanto berperan sebagai Batara Brahma dan Pangkoarmada RI Laksdya TNI Heru Kusmanto sebagai Batara Surya. Disamping itu tokoh pewayangan yang lain juga diperankan oleh Perwira Tinggi Angkatan Laut yang lain dan sejumlah prajurit TNI AL serta Korps Wanita TNI AL turut mendukung Pagelaran Wayang Orang “Pandawa Boyong” dengan memerankan tokoh-tokoh pewayangan yang lain.

Danlantamal XII, Laksamana Pertama (Laksma) TNI Suharto, S.H., M.Si.(Han) mengatakan, kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera yang jatuh setiap tanggal 15 Januari.

Ia menambahkan, kegiatan ini melibatkan Pejabat Utama TNI AL, TNI AD, TNI AU, dan Polri, serta 450 prajurit TNI AL, juga dengan Laskar Indonesia Pusaka (LIP) dan grup wayang orang Bharata.

“Kegiatan ini dalam rangka memperingati hari Dharma Samudera TNI Angkatan Laut, yang jatuh setiap tanggal 15 Januari,” ujarnya Danlantamal XII.

Pagelaran Wayang Orang ini merupakan ide dari Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono yang saat itu masih menjabat sebagai Kasal. Menceritakan tentang Lakon Pandawa Boyong dimana ketika lima orang ksatria bersaudara boyongan (pindah) dari Alengka yang dikuasai Kurawa ke Astinapura. Kepindahan itu untuk memerdekakan diri dari kekuasaan Kurawa.

Dari pagelaran tersebut, Danlantamal XII menuturkan makna dalam cerita ini dapat menjadi pesan moral untuk masyarakat agar lebih memahami, menghayati, serta mengamalkan Pancasila.

“Makna yang terkandung dalam cerita boyongnya Pandawa ke Astina menjadi pesan moral masyarakat agar lebih memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila,” kata dia.

Dalam pagelaran wayang orang ini, selain menampilkan Pejabat Utama TNI dan Polri, pagelaran ini juga melibatkan artis Tanah Air. Adanya pertunjukkan kreatifitas seni budaya ini, menunjukkan Panglima TNI, Laksamana Yudo Margono dan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam berbagai kesempatan selalu menunjukkan sinergitas dan soliditas TNI-Polri. Tidak hanya soal urusan menjaga kondusivitas Indonesia, keduanya juga kompak melestarikan kesenian tradisional dengan main wayang orang bersama.

Pagelaran wayang orang “Pandawa Boyong” ini diinisiasi oleh Panglima TNI Laksamana Yudo Margono berkolaborasi dengan lintas generasi, para tokoh dan berbagai unsur seperti Laskar Indonesia Pusaka, Paguyuban Wayang Orang Barata, dan lain sebagainya.
Laksamana Yudo Margono di kalangan seniman memang dikenal juga sebagai sosok Laksamana Budayawan. Ini karena dirinya selama ini sangat konsen dalam melestarikan seni budaya warisan leluhur nenek moyang.
Laksamana TNI Yudo dalam pernyataannya beberapa waktu lalu menyebut bahwa usaha menjaga kelestarian budaya, termasuk orang, menjadi semakin penting untuk dilaksanakan di tengah serbuan pengaruh budaya asing sebagai dampak dari globalisasi hasil kemajuan teknologi informasi dan digital.
Dirinya bertekad untuk ambil bagian dalam usaha melestarikan berbagai kekayaan budaya bangsa melalui tindakan-tindakan yang nyata.

“Bangsa Indonesia seharusnya lebih memilih wayang sebagai tontonan sekaligus tuntunan dalam kehidupan. Tetapi, pada kenyataannya saat ini rakyat kita, khususnya generasi muda, lebih mengidolakan tokoh-tokoh superhero produk negara lain dibandingkan tokoh-tokoh pewayangan. Ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk mengembalikan kecintaan masyarakat terhadap budaya sendiri,” kata Laksamana TNI Yudo Margono sebelumnya.

Lakon Pandawa Boyong ini mengisahkan babak ketika lima orang ksatria bersaudara boyongan atau pindah dari Alengka yang dikuasai Kurawa ke Astinapura. Kepindahan itu untuk memerdekakan diri dari kekuasaan Kurawa. Mereka harus berperang melawan Kurawa yang jumlahnya jauh lebih besar dengan punya persenjataan lebih banyak. Namun berkat kesungguhan yang didasarkan niat baik, Pandawa dapat memenangkan perang.
Boyongnya Pandawa ke Astina menjadi pesan moral kepada masyarakat agar lebih memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila. Bahkan sosok dalam Pandawa Lima pun relevan dengan semangat dan nilai-nilai Pancasila.
Kapolril, Jenderal Sigit yang memerankan tokoh Prabu Puntadewa. Puntadewa dalam pewayangan digambarkan sebagai sosok manusia yang berhati suci dan membela kebenaran. Puntadewa juga digambarkan sebagai sosok manusia yang sabar, beriman, tekun beribadah, ikhlas dan jujur.
Puntadewa adalah simbol ketuhanan yang menjadi sila pertama dalam Pancasila. Bimasena yang adil dan penuh rasa kemanusiaan, mewakili sila ke dua Pancasila. Arjuna mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan yang dinyatakan dalam sila ke tiga Pancasila. Nakula menyimbolkan sila ke empat, yaitu permusyawaratan masyarakat. Sedangkan kembarannya, Sadewa simbol dari sila ke lima, keadilan sosial yang benar-benar adil.

Hadir dalam nonton bareng pagelaran wayang orang “Pandawa Boyong” Pangdam XII Tanjungpura diwakilkan Pabandya Watpers, Kajati Kalbar diwakilkan Aspidmil, Danlanud Supadio Marsma TNI Prasetiya Halim, S.H., beserta ibu, Kabinda Kalbar diwakilkan Waka Binda Kolonel Cpl Suwandi, S.E., M.E., Kepala BNN Kalbar Brigjen Pol. Budi Wibowo, S.H., SIK., M.H., Walikota Pontianak diwakilkan Kadis Pangan Pertanian dan Perikanan, Wadan Lantamal XII Kolonel Mar Budiarso, S.E., Ketua KPU Kalbar Ramdan, S.Pd.I., M.Pd., Rektor Untan Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si., Kakanwil BC Kalbagbar Hary Budi Wicaksono, Kepala BKSDA Kalbar RM. Wiwied Widodo, Kepala Stasiun TVRI Kalbar Syarifuddin, S.E., M.M., Kepala LPP RRI Pontianak Widhie Kurniawan, Kepala BI Kalbar Agus Chusaini dan Kepala BRI Pontianak Hermawan Sutrisno.

(Red)

Berita Lainnya