oleh

KKB ’66 Harapkan Airlangga Hartarto Nakhodai Partai Golkar Periode Mendatang

Jakarta – koranprogresif.co.id – Ketika di upacara pemakaman almarhum Cosmas Batubara pada hari Sabtu, 10 Agustus 2019, pukul 13.50 WIB di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Utama Kalibata, Ketua Komunitas Keluarga Besar Angkatan 1966 (KKB ’66) Binsar Effendi Hutabarat sempat mempertanyakan soal masa depan Partai Golongan Karya (Golkar) dengan Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, Akbar Tandjung.

Binsar Effendi mendapatkan saran dari Akbar Tandjung agar KKB ’66 diharapkan tetap mengawal untuk eksistensi Partai Golkar ke depan.

“Saran Bang Akbar sangat wajar, sebab sebagian besar aktivis Angkatan 1966 terdahulu adalah kader fungsional Golkar atas pertimbangan dibentuknya Golkar memang untuk menghadapi PKI pada masanya, dan tentunya kekuatan Angkatan 1966 yang terdiri dari kesatuan aksi mahasiswa, pemuda pelajar dan pelajar, sangat dominan masuk pada wadah konsolidasi yang terdiri dari Kino Kosgoro, MKGR dan Soksi. Kami di KKB ’66 sampai Golkar menjadi partai politik, masih banyak yang punya Nomor Pokok Anggota Golkar (NPAG) yang ditandatangani oleh Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung,” tutur Binsar Effendi kemarin.

Lebih relevan lagi, karena Bang Akbar itu adalah Ketua Dewan Pembina dan almarhum Bang Cosmas adalah Ketua Dewan Penasehat KKB ’66, yang juga tokoh Golkar dijamannya. “Jadi, yah tak soal jika kami, KKB ’66 concern terhadap eksistensi Partai Golkar ke depan,” ujarnya yang juga Ketua Umum eSPeKaPe (Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina) dan Ketua Dewan Penasehat Mabes Laskar Merah Putih (LMP) dari markasnya di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur didampingi Bobby Floriest dan Teddy Syamsuri.

Pasalnya, ungkap Ketua KKB ’66, selama dua tahun menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, partai Pohon Beringin ini banyak diterpa masalah besar internalnya. Terutama terkait kasus hukum yang menjerat para petinggi partai. Seperti kasus korupsi e-KTP yang memenjarakan mantan Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto dan disusul oleh kasus perkara suap PLTU Riau-1 yang membuat Plt Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham masuk bui.

Akibat dari masalah besar diinternalnya, muncul juga Partai Berkarya yang dipimpin oleh Tommy Suharto, termasuk hengkangnya Titik Suharto dan Budisantoso dari Partai Golkar merapat ke Partai Berkarya besutan Tommy yang ikut bertarung dalam Pemilu 2019.

“Adalah sangat wajar jika kemudian survei untuk Partai Golkar dari beberapa lembaga survei yang kredibel mengekspos untuk Partai Golkar hanya akan mendapatkan suara diseputaran 6 atau 7 persen saja. Bahkan ada yang memprediksi jika Partai Golkar itu akan berada dibawah PKB di nomor keempat. Ini sangatlah memprihatinkan,” beber Binsar Effendi.

Namun demikian, dalam kepemimpinan Partai Golkar dibawah Airlangga Hartarto, menurut Ketua Umum KKB ’66, membuat Partai Golkar berhasil membalikkan prediksi sejumlah survei soal perolehan suara Partai Beringin itu di Pemilu 2019, menjadi pemicu bagi aktivis Angkatan 1966 kader fungsional Golkar untuk optimis.

Memang kata Binsar Effendi, baru kali di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 perolehan suara Partai Golkar hanya meraih 11,80 persen, berada di urutan ketiga setelah PDI Perjuangan mendulang 18,89 persen suara diurutan pertama, dan Partai Gerindra meraih 12,68 persen diurutan kedua.

“Tapi perolehan kursi di DPR, Partai Golkar masih pada posisi nomor dua setelah PDI Perjuangan. Diprediksi Partai Golkar 85 kursi, sementara Partai Gerindra di DPR 78 kursi. Ini yang patut kami, KKB ’66 syukuri,” katanya.

Sehingga jika masih ada sekelompok kader Partai Golkar yang kurang mensyukuri, dipastikan ada kandungan kepentingan dibalik keluhan dan protesnya.

“Kami, KKB ’66 menentang keras jika ada pihak-pihak di tubuh Partai Golkar sendiri yang menjustifikasi jika Airlangga sudah mengalami krisis legitimasi. Alasannya karena ada persoalan pemilih resistensi dari beberapa pengurus di tingkat DPD, sehingga mereka menganggap penting adanya pergantian ketua umum. Ini kan pemikiran dan pendapat kufur syukur, sempit, tidak mau mensyukuri realita peta perpolitikan yang terjadi,” ucap Binsar Effendi cukup kesal dan siap menghadapi mereka meski usia tak lagi muda.

Teddy Syamsuri yang Sekretaris KKB ’66 dan mendampingi Binsar Effendi turut menjelaskan atas harapan KKB ’66, agar Airlangga Hartarto menakhodai Partai Golkar kembali karena adanya pencapaian yang telah berhasil diperjuangkan dalam Pemilu 2019.

Teddy Syamsuri yang juga Ketua Umum Lintasan ’66 dan Sekretaris Dewan Pembina Seknas Jokowi DKI dalam penjelasannya mengutip hasil survei Lembaga Kajian Hasil Pemilu (LKPI) yang diekspos pada 9 Agustus 2019 baru baru ini.

LKPI dalam surveinya menggunakan jajak pendapat kepada masyarakat dan kader Partai Golkar di 478 kabupaten/kota di 34 provinsi. LKPI mengambil sampel 2.450 responden yang menggunakan metoda stage random sampling.

Hasilnya kinerja Partai Golkar dibawah kepemimpinan Airlangga, 52,6 persen responden merasa sangat puas, 37,3 persen menyatakan puas, hanya 7,7 persen mengaku tidak puas, selebihnya tidak menjawab.

Terkait kontestasi untuk Ketua Umum Partai Golkar di Kongres bulan Desember mendatang, 70,9 persen dari 2.450 responden menyatakan Airlangga layak memimpin Partai Golkar di periode berikutnya. Hanya 10,9 persen yang menyatakan tidak layak lagi. Sementara 18,2 persen tidak memberikan jawaban.

Memang diakui, adanya penurunan perolehan suara di Pemilu 2019 tiada lain akibat dari dampak serangkaian kasus korupsi yang dilakukan elite Partai Golkar. “Disamping itu, dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029, ketiadaan baik Calon Presiden (Capres) maupun Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang diusung oleh partainya sendiri. Namun, dengan mengandalkan jaringan pemilih loyal di daerah oleh kekuatan diri Airlangga, terbukti biar diurutan ketiga perolehan suara, tapi posisi kursinya di DPR di urutan kedua,” ujar Teddy Syamsuri.

Bobby Floriest sebagai pamungkas rilis KKB ’66, mengatakan, dalam waktu dekat ini akan menyampaikan harapan langsung kepada Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

“Tentunya akan memberitahukan dulu kepada Bang Akbar Tandjung selaku Ketua Dewan Pembina KKB ’66, atas restunya semoga bisa berbincang-bincang dengan Bung Airlangga Hartarto yang pastinya super sibuk karena jabatannya selaku Menteri Perindustrian dalam Kabinet Indonesia Kerja saat ini. Dan dalam suasana kebatinan kami, KKB ’66 yang mengenal baik ayahandanya Airlangga, almarhum Pak Hartarto yang juga menjadi Menteri Perindustrian di jaman Pak Harto adalah kewajiban kami untuk berharap Bung Airlangga menjadi Ketua Umum Partai Golkar lagi,” ujar Booby, Koordinator Eksekutif KKB ’66. (Red).

News Feed