oleh

Kisah Alina dan Waters dari Ukraina

-Opini-463 views

Oleh I.S. Aji Ronoatmojo

Jakarta – koranprogresif.co.id – Alina Mitrofanofa, gadis 19 tahun itu. Asal Ukraina. Sempat bikin gusar Roger Waters. Ia menggugat Waters yang terkesan diam saja saat anak-anak tak berdosa menjadi korban kekerasan di Ukraina. Sementara, Alina terlanjur menganggap Waters sebagai aktivis kemanusiaan yang menembus batas ras, etnik dan agama.

Alina berhak garang karena saat Sheikh Jarrah Camp diserang Israel, Waters berhari-hari meradang. Dalam benak Alina, Waters bukanlah hanya musisi, melainkan aktivis anti perang. Dalam balasan suratnya, Waters sangat memahami perasaan gundah Alina.

Ia mengerti Alina, sebab Waters kehilangan ayah dan kakeknya selama Perang Dunia II (PD-2). Waters meyakinkan Alina, ia tetap punya sikap yang sama. Tetapi dikatakannya, jika Alina mengira negaranya bersih dari gangster kemanusiaan, tidak juga! Ia sebut milisi Azov di Ukraina sama saja.

Seperti sebuah lagu. Realitas dunia terasa paradox dalam batas-batas wilayahnya. Alina dan Waters akhirnya hanyalah makhluk planet yang terpinggirkan dari kepentingan geopolitik dunia.

Kita mudah untuk menaruh empati pada korban kekerasan. Namun, kita tidak mudah untuk berbuat sesuatu demi hal tersebut. Alina pada kondisi mengalaminya secara langsung. Derita pada kesangsian membuat ia tersadar pada keterpinggirannya.

Lembaga resmi dunia seperti PBB atau lembaga-lembaga lainnya mungkin sebatas mengutuk. Waters mungkin bisa meradang lewat musiknya atau opininya yang lantang. Ia buat organisasi perlawanan. Tetapi tetap kepentingan politik manusia tidak bisa ditembus.

Dunia yang paradox seperti sebuah kutukan dari Tuhan. Segala upaya terasa absurd. Itulah sebabnya pada era 1970-an muncul semacam kebangkitan Spiritualitas Timur di Barat. Namun, pada masa yang sama itu tidak luput dari lahirnya gerakan anarkis seperti Gerakan Black September atau Munaẓẓamat Aylūl al-aswad yang didirikan pada 1970.

Kelompok tersebut bertanggungjawab atas terjadinya penculikan dan pembunuhan sebelas atlet dan pejabat Israel, dan penembakan seorang polisi Jerman Barat, pada saat Olimpiade Musim Panas 1972 di Munich. Peristiwa-peristiwa tersebut melahirkan pembentukan pasukan perlawanan terhadap terorisme yang dilatih secara militer, profesional dan permanen di negara-negara Eropa, seperti GSG9 dan GIGN.

Waters dan Alina mungkin geram terhadap kekerasan. Banyak dari kita demikian pula. Dan rasanya semakin teralienasi. Bilamana pilihannya adalah melawan kekerasan dengan kekerasan, maka disitulah terjadi paradox. Ketimpangan dan ketidak-adilan banyak menjadi ilham dari lagu-lagu blues.

Sepertinya penderitaan itu hanya sebagai ilham bagi keindahan rasa kesenian bagi manusia yang bermartabat. Dihargai di panggung paling bergengsi pada inaugurasi hadiah Nobel atau penghargaan Palm d’Or pada Festival Film Cannes.

Patti Smith bisa jadi tergagap saat menyanyikan “A hard rain’s a gonna fall” saat pemberian hadiah Nobel Kesusasteraan kepada Bob Dylan. Persis pada frase “Oh, what did you see, my blue-eyed son? And what did you see, my darling young one? I saw a newborn baby with wild wolves all around it. I saw a highway of diamonds with nobody on it.
I saw a black branch with blood that kept dripping.
I saw a room full of men with their hammers a-bleeding..”

Ia tergagap dan nervous….

“Oh, apa yang kamu lihat, anakku yang bermata biru?
Dan apa yang kamu lihat, anak mudaku sayang?Saya melihat bayi yang baru lahir dengan serigala liar di sekitarnya. Saya melihat jalan raya berlian tanpa siapa pun di atasnya. Saya melihat ranting hitam dengan darah yang terus menetes. Saya melihat sebuah ruangan yang penuh laki-laki dengan palu berdarah..”
Ia berhenti dan ruang senyap.

Para aristoktat dunia sekejap hening. Dan setelah Patti Smith minta maaf. bertepuk tangan memberi applaus. Oneness. Sekejap dirasakan dan kemudian entah tertiup angin kemana?
Seperti halnya Waters menyapa hangat Alina:
“Love R, have you got a dog? If so please send a pic”.

*I.S. Aji Ronoatmojo adalah, Penyair, Pengajar, dan Geologist.

Teks foto: Penyair I.S. Aji Ronoatmojo (Dok. pribadi).

Berita Lainnya