oleh

KAJATI KALSEL RESMIKAN RUMAH RESTORATIVE JUSTICE ‘ADHYAKSA TUNTUNG PANDANG” KABUPATEN TANAH LAUT

-Hukrim-164 views

 

Kalsel – koranprogresif.co.id – Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan, DR Mukri meresmikan Rumah Restorative Justice di Kantor Desa Bumi Jaya Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut, Kamis (09/6/2022).

Kasi Penkum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan, Romadu Novelino, SH, MH pada Siaran Pers menerangkan bahwa, pada acara tersebut, turut hadir Kepala Kejaksaan Negeri Tanah Laut, Ramadani, S.H, M.H dan Asisten Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan, Indah Laila, S.H, M.H .

Pembentukan Rumah Restorative Justice di wilayah Kalimantan Selatan, bukanlah hal yang baru dilakukan. Di beberapa Kabupaten/Kota telah di bentuk Rumah Restorative Justice. Hasilnya, positif serta mendapatkan apresisasi dari berbagai kalangan di daerah mereka masing – masing.

Hal ini menandakan urgensi pembentukan Restorative Justice di daerah untuk menjawab kebutuhan sarana demi memudahkan penyelesaian perkara diluar persidangan melalui penerapan mediasi penal dengan pendekatan Restorative Justice.

Dalam Sambutannya, Bapak Dr. Mukri, S.H, M.H, selaku Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan menjelaskan bahwa, secara Konseptual dan sederhana dalam ranah hukum pidana, Restorative Justice atau Keadilan Restoratif dapat diartikan sebagai suatu pendekatan untuk mencapai keadilan dengan pemulihan keadaaan atas suatu peristiwa pidana yang terjadi.

Berbeda dengan pendekatan pada penegakan hukum pidana konvensional/pada umumnya dalam hukum positif kita yang lebih bersifat Restorative
Justice dengan menitikberatkan pada penghukuman bagi pelaku, pendekatan dengan Restorative Justice menitikberatkan pada
adanya partisipasi langsung pelaku, korban, dan masyarakat atau pemangku kepentingan lainnya dalam suatu proses musyawarah guna mencari dam mencapai suatu solusi (mufakat) atas suatu persoalan atau peristiwa pidana.

Bapak Dr. Mukri, S.H, M.H, selaku Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan juga menjelaskan bahwa, dengan pendekatan keadilan restoratif merupakan alternatif penyelesaian perkara tindak pidana yang menekankan pada proses dialog dan mediasi sehingga apabila dilakukan dengan benar, dipercaya dapat merehabilitasi perilaku pelaku, meningkatkan pencegahan (deterrence) tindak pidana, menyadarkan para pihak akan pentingnya norma yang dilanggar (reinforcement of norm), dan memungkinkan pemulihan kerugian korban melalui ganti rugi atau restitusi.

Oleh karena itu, pendekatan Restorative Justice tidak hanya berbicara mengenai proses, tetapi juga mengenai nilai (values) untuk terciptanya kedamaian dalam masyarakat, terwujudnya harmoni kehidupan dan terjaganya keseimbangan kosmis antara kehidupan masyarakat dengan alam semesta.

Selain dari pada itu, Beliau juga mengharapkan dengan adanya sarana rumah Restorative Justice yang di beri nama Adhyaksa Tuntung Pandang di
Kantor Desa Bumi Jaya, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut yang telah diresmikan, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dan dirasakan keberadaanya oleh masyarakat sebagai tempat pelaksanaan musyawarah mufakat dan perdamaian untuk menyelesaikan masalah / perkara pidana yang terjadi, yang dimediasikan oleh Jaksa dengan disaksikan para tokoh masyarakat,
tokoh adat dan/atau tokoh agama setempat (mediasi penal dengan pendekatan restorative justice).

Muaranya, tentu dapat
terselesaikannya penanganan perkara secara cepat, sederhana dan biaya ringan, serta terwujudnya kepastian hukum yang lebih mengedepankan keadilan yang tidak hanya bagi tersangka, korban dan keluarganya, tetapi juga keadilan yang menyentuh
masyarakat dengan menghindarkan adanya stigma negatif terutama bagi tersangka.

Lebih jauh, pembentukan rumah Restirative Justice ini diharapkan juga meiliki dampak ganda yang positif yakni dapat menjadi trigger untuk menghidupkan Kembali peran para
tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat, untuk bersama – sama masyarakat menjaga kedamaian dan harmoni serta meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sesamanya dalam menyikapi suatu masalah.

Namun demikian, Rumah Restorative Justice bukan dimaksudkan untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi di masyarakat, tetapi terbatas pada permasalahan hukum pidana yang terjadi pada masyarakat dalam rangka mengeliminir perkara yang relatif ringan untuk diselesaikan melalui perdamaian yang dimediasikan oleh Jaksa.

Pembentukan Rumah Restorative Justice ini berdasarkan Surat Edaran Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum No : B- 913 /E/Ejp/03/2022 tanggal 25 Maret 2022 tentang Pembentukan Rumah Restorative Serta Memedomani Petunjuk Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum dalam surat Nomor: B-475/E/Es.2/02/2022 tanggal 08 Februari 2022 hal Pembentukan Kampung Restorative Justice.

Rumah restorative Justice berfungsi sebagai tempat pelaksanaan musyawarah mufakat dan
perdamaian untuk menyelesaikan masalah/perkara pidana yang terjadi dalam masyarakat, dihadiri oleh tersangka dan korban, keluarga tersangka/korban yang dimediasikan oleh Jaksa dengan disaksikan para tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat setempat.

Selanjutnya setelah memberikan kata sambutan, Bapak DR. Mukri, SH, MH selaku Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan kemudian meresmikan Rumah Restiratif Justice ‘Adhyaksa Tuntung Pandang’ di Kantor Desa Bumi Jaya Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut yang ditandai dengan pemukulan gong. (MN).

Berita Lainnya