oleh

JURNALIS KORAN PROGRESIF KALTENG, KUNJUNGI MUSEUM MULAWARMAN “Mengenal Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara”

-Nusantara-333 views

 

Kuala Kapuas – koranprogresif.co.id – Museum Mulawarman merupakan salah satu destinasi wisata paling banyak dikunjungi di Provinsi Kalimantan Timur, yang terletak di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Museum Mulawarman ini berisikan terdiri dari Museum Mulawarman, Kompleks Makam Sultan, dan Pusat Oleh-oleh wisata.

Untuk mencapai Museum ini kita dapat melalui dua jalur, Pertama dari Samarinda yang lurus saja mengikuti jalan sampai Tenggarong dengan estimasi waktu tempuh bila lewat Samarinda sekitar 60 menit.

Jalur kedua adalah dari Balikpapan, Samboja, dan Loa Janan. Dari Balikpapan, anda dapat menempuh Jalan Soekarno-Hatta menuju Samarinda sampai pertigaan Loa Duri langsung menuju Tenggarong. Estimasi waktu yang ditempuh bila dari Loa Janan sekitar 60-90 menit saja.

Bangunan Museum Mulawarman merupakan Istana Sultan Kutai atau Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara yang didirikan tahun 1932 oleh Pemerintah Belanda yang menyerahkan Keraton kepada Sultan Adji Muhammad Parikesit pada tahun 1935. Bangunan ini mengalami renovasi besar setelah terjadi kebakaran di dalamnya.

Setelah pemerintahan Kesultanan Kutai berakhir pada tahun 1960, istana dengan luas 2.270 m2 ini kemudian diduduki oleh Sultan A.M Parikesit sampai tahun 1971. Istana ini kemudian diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kalimantan Timur pada tanggal 25 November 1971.

Pada tanggal 18 Februari 1976, pemerintah provinsi kemudian menyerahkan istana ini kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk dikelola sebagai sebuah museum negara.

Kemudian museum ini diberi nama Museum Mulawarman dan saat ini Sultan Aji Muhammad Salehudin II tercatat sebagai raja ke-20 Kesultanan.

Untuk memasuki area museum, pengunjung diharuskan membayar tiket masuk dengan harga Dewasa Rp 3.500/orang, Anak-anak/pelajar Rp 1.500/orang, Warga negara Asing Rp 5.000/orang yang buka dari pukul 09.00 hingga 16.00 Wit.

Di dalam Museum Mulawarman ini, tersimpan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah/seni tinggi yang pernah digunakan Kesultanan seperti singgasana atau tempat duduk Raja dan Permaisuri yang terbuat dari kayu, dudukan dan sandarannya diberi berlapis kapuk yang berbungkus dengan kain yang berwarna kuning, sehingga tempat duduk dan sandaran kursi tersebut terasa lembut. Kursi ini dibuat dengan gaya Eropa, penciptanya adalah orang Belanda bernama Ir. Vander Lube pada tahun 1935, patung Lembu Swana atau Lambang Kesultanan Kutai yang dibuat di Birma pada tahun 1850 dan tiba di Istana Kutai pada tahun 1900. Lembu Swana diyakini sebagai Kendaraan Tunggangan Batara Guru.

Nama lainnya adalah, Paksi Liman Janggo Yoksi, yakni Lembu yang bermuka gajah, bersayap burung, bertanduk seperti sapi, bertaji dan berkuku seperti ayam jantan, berkepala raksasa dilengkapi dengan berbagai jenis ragam hias yang menjadikan patung ini terlihat indah, dan lain sebagainya.

Di area Museum Mulawarman ini, terdapat juga bangunan makam raja-raja kutai mulai dari Sultan Muhammad Muslihuddin (Aji Imbut), Sultan Kutai ke-16 hingga Sultan AM Parikesit (Aji Enje), Sultan Kutai ke-21.

Saat pertama kali menginjakan kaki di Kompleks Makan Raja Kutai ini, kita akan melihat silsilah raja kutai periode pertama yang masih memeluk agama hindu hingga raja kutai saat ini yang memeluk agama islam. Raja pertama Kerajaan Kutai adalah Maharaja Kudungga atau dengan gelar Raja Naladwipa.

Sebelum meningalkan museum ini, wartawan Progresif yang suka travelling ini mengunjungi pusat Souvenir Museum Mulawarman.

Di tempat ini, kita akan menemukan berbagai pernak-pernik Kaltim dan berbagai barang-barang souvenir menarik lainnya. (Dolok).

News Feed