oleh

Jumhur Hidayat Layangkan Surat Terbuka Untuk Jokowi, Megawati dan Prabowo

Jakarta – koranprogresif.co.id – Aktifis senior, Moh. Jumhur Hidayat melayangkan surat terbuka kepada Presiden terpilih Joko Widodo, Ketua Umum PDI-Perjuangan, dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Rabu (14/8/19).

Dalam suratnya, Jumhur yang juga eks Kepala BNP2TKI mengawali ucapannya dengan doa untuk ketiga tokoh politik nasional itu. Selanjutnya, Jumhur menyampaikan beberapa hal terkait situasi politik nasional tanah air belakangan ini.

Jumhur mengaku baru memahami makna pertemuan Jokowi dan Prabowo. Begitu juga pertemuan Prabowo dan Megawati beberapa waktu lalau. Pertemuan Jokowi-Prabowo maupun Prabowo-Megawati dipahami Jumhur karena dia menggunakan pendekatan musyawarah dan gotong royong, yang merupakan ajaran Trisakti Bung Karno.

Berikut surat terbuka Jumhur selengkapnya, yang dikutip dari laman facebooknya

Jakarta, 14 Agustus 2019

Kepada Yth.

1. Bapak Joko Widodo (Presiden Terpilih 2019-2024)
2. Ibu Megawati Sukarno Putri (Ketua Umum PDIP)
3. Bapak Prabowo Subianto (Ketua Umum GERINDRA)

Di Jakarta

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.

Dengan hormat,

Pertama-tama saya mendo’akan semoga Bapak dan Ibu semua selalu dalam lindungan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga dapat menjalankan tugas-tugas mulia memimpin rakyat Indonesia dengan sebaik-baiknya.

Selanjutnya, di bulan Kemerdekaan Bangsa Indonesia ini, perkenankan saya manyampaikan beberapa hal terkait dengan situasi politik saat ini:

1. Saya pada akhirnya bisa memahami bahwa memang penyelenggaraan politik di Indonesia tidak bisa sepenuhnya didalami dengan teori demokrasi semata apalagi demokrasi liberal, sehingga saat saya memaksakan teori itu maka saya kesulitan memahami pertemuan-pertemuan politik yang Bapak dan Ibu semua lakukan beberapa waktu lalu. Sebaliknya, ketika saya  mendalaminya dengan pendekatan musyawarah dan gotong-royong, barulah saya bisa mengerti mengapa pertemuan-pertemuan itu bisa terjadi.

2. Saya beranggapan bahwa musyawarah adalah untuk memufakati suatu konsep yang terbaik bagi rakyat sementara gotong-royong adalah kerja bersama merealisasikan konsep terbaik itu. Terkait dengan inilah, maka saya menduga-duga bahwa dalam pertemuan-pertemuan tersebut ada permufakatan untuk melaksanakan Ajaran Trisakti Bung Karno, yaitu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya. 

3. Saya mengamati selama dua dekade belakangan ini, belum melihat ada kesungguhan dari kabinet untuk menjadikan Ajaran Trisaksti Bung Karno tersebut sebagai pijakan dalam melahirkan kebijakan-kebijakan nasional bahkan yang terjadi justru sebaliknya. Karena itulah kita menyaksikan terjadinya de-industrialisasi yang sangat serius bahkan juga tergerusnya kedaulatan pangan di Indonesia. Dalam bidang budaya pun, secara sistematik generasi muda saat ini lebih berkesadaran budaya asing ketimbang budaya nasional yang sesungguhnya banyak kebajikan dan kejeniusan di dalamnya. Bila suatu bangsa dalam ekonomi dan budayanya telah terkooptasi atau terkungkung sedemikian kuat oleh kekuatan asing, maka secara perlahan kedaulatan politik pun bisa memudar. Saya yakin tentunya bukan hal demikian yang akan Bapak dan Ibu wariskan kelak kepada anak cucu kita.

4. Pertemuan-pertemuan yang Bapak dan Ibu lakukan beberapa waktu lalu, memang bisa mendinginkan suhu gerakan rakyat yang sebelumnya bergejolak. Namun saya juga bisa merasakan bahwa denyut nadi gerakan rakyat itu sesungguhnya masih berdetak keras. Bila pertemuan-pertemuan Bapak dan Ibu semua ternyata tidak menghasilkan suatu penyelenggaraan pemerintahan yang mengarah pada kesejahteraan dan keadilan akibat dari semakin memburuknya kebijakan-kebijakan ekonomi-politik, maka bukan hal yang mustahil gerakan rakyat itu akan menggelora dan masif untuk mengoreksi jalannya kekuasaan pemerintahan negara. Pada hemat saya, gerakan rakyat itu kelak tidak lagi dalam payung kontestasi pilpres melainkan lebih dahsyat yaitu dalam perspektif  “rakyat versus negara”. Sebaliknya bila pertemuan-pertemuan Bapak dan Ibu semua menghasilkan kebaikan nyata bagi rakyat, maka saya pun berkeyakinan bahwa artinya kita telah menghargai dan menghormati darah yang tumpah serta ratusan nyawa yang gugur baik itu para Petugas KPPS maupun dalam peristiwa sabotase Aksi Damai 21-22 Mei 2019, karena peristiwa-peristiwa itu, di samping telah ikut mengoreksi jalannya demokrasi di masa depan, juga menghasilkan manfaat kebaikan yang nyata dirasakan oleh rakyat. Walau begitu pun kita tetap harus bisa mengusut tuntas peristiwa kematian baik itu para petugas KPPS maupun peristiwa sabotase Aksi Damai 21- 22 Mei 2019 lalu agar tidak menyisakan beban kepedihan bagi perkembangan sejarah demokrasi di Indonesia

5. Demi Allah, kutuklah saya bila saya berbohong, bahwa tidak ada orang yang menyuruh saya untuk membuat surat ini, selain “disuruh” oleh akal budi dan niat baik saya, tentunya setelah mengamati situasi politik-ekonomi termasuk mengamati kesungguhan atau kekhidmatan orang per orang dalam kiprahnya. Terkait dengan ini, maka saya mengharapkan Bapak dan Ibu semua mau mendiskusikan dengan mendalam sosok Dr. Rizal Ramli untuk bisa dipertimbangkan membantu Bapak dan Ibu semua dalam memimpin bangsa ini yaitu dengan cara menempatkan sosok ini membantu Presiden Terpilih dalam bidang ekonomi dan keuangan. Saya cukup lama mengamati kekhidmatan sosok ini dalam berkiprah dan saya meyakini sosok ini bisa ikut membantu merealisasikan Ajaran Trisakti Bung Karno itu. Saya yakin Bapak dan Ibu semuanya juga telah mengenal dengan sangat baik sosok ini. 

Demikian surat terbuka ini saya sampaikan, semata-mata demi ingin ikut mengarahkan masa depan bangsa setelah melewati jembatan emas kemerdekaan yaitu insha Allah secara bertahap namun pasti akan menjadi bangsa yang sungguh-sungguh berdaulat, berdikari dan berkepribadian. Aamiiin

Terimakasih tiada berhingga atas perhatian Bapak dan Ibu semua bila telah berkenan meluangkan waktu membaca surat ini.

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb

Hormat saya,
Moh Jumhur Hidayat.

News Feed