oleh

HUBUNGAN HABIBIE Dan PAK HARTO: Sisi Personal Politik Indonesia

 

Oleh Denny JA

 

Politik tidak hanya soal hubungan antar lembaga negara dan opini publik. Politik juga soal hubungan personal tokoh politik utama. Sisi personal ini yang membuat politik memberikan nuansa yang menyentuh, yang lama untuk direnungkan, selayaknya puisi.

Perubahan politik reformasi di tahun 1998 berkisah banyak. Ia tak hanya soal perubahan sistem besar otoritarian menuju demokrasi. Ia juga menyimpan hubungan personal Habibie dan Pak Harto.

Hal ini yang pertama- tama datang dalam memori saya, ketika menerima kabar Habibie meninggal.

Dua hari sebelum Habibie wafat, saya menerima pesan dari teman yang memiliki indera keenam. Ia menulis pesan singkat: Mas dalam dua hari ini ada tokoh besar kita wafat. Saya membalas. Habibie kah? Teman itu tak menjawab.

Ketika berita Habibie wafat, tepat dua hari setelah ia kirim pesan, ia membalas pesan saya dengan tulisan singkat; RIP. Rest in Peace.

-000-

Jika ada yang masih mengganjal di hati Habibie, saya menduga itu soal hubungan pribadinya dengan pak Harto.

Sejak kecil, pak Harto sudah masuk dalam hidup pribadi Habibie. Di Makasar, Pak Harto pernah bertugas di tahun 1950an. Markasnya tepat di depan rumah pak Habibie.

Saat itu Habibie masih remaja. Pak Harto sering berkunjung ke rumahnya. Bahkan pasukan militer pak Harto acapkali mengadakan rapat, meminjam rumah Ayah Habibie.

Itu momen yang Habibie tak pernah lupa. Ayahnya wafat karena serangan jantung. Pak Harto datang, menutup mata Ayahnya. Pak Harto menguatkan hatinya. Pak Harto tetap merawat hubungan dengan keluarganya.

Habibie kuliah di Jerman, di tahun 60an. Saat itu Pak Harto belum menjadi presiden. Ketika Pak Harto di Jerman, Pak Harto sempat mengunjungi, bersama ibu Tien.

Tak lupa, Pak Harto membawa makanan untuk Habibie. Makanan itu titipan dari ibu Habibe sendiri. Betapa pak Harto sudah seperti keluarga, yang penuh perhatian.

Jarak usia Habibie dan Pak Harto sekitar 15 tahun. Pak Habibie lahir tahun 1936. Pak Harto lahir tahun 1921.

Secara terbuka, pak Habibie bercerita. Pak Harto itu guru politiknya. Ujar Habibie dalam berbagai kesempatan: “Jika ada yang bertanya siapa guru saya yang mengajari ilmu pesawat? Saya pasti jawab: banyak ilmuwan di Jerman sana. Tapi siapa guru Habibie soal politik? Pasti saya jawab, tak lain dan tak bukan. Guru politik saya adalah pak Harto!”

Begitu luas kesempatan yang dibuka Pak Harto untuk Habibie. Ia bukan saja diangkat terus menerus menjadi menteri untuk membangkitkan ilmu dan teknogi. Habibie juga dipercaya memimpin industri untuk membuat pesawat.

Tak hanya soal teknologi, Pak Harto juga memperkuat basis politik Habibie. Semua tahu, Habibie bukanlah tokoh yang memiliki rekor panjang soal perjuangan agama Islam. Namun pak Harto menjadi fasilitator agar Habibie membangun dan menjadi ketua umum pertama ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia).

Posisi itu akhirnya memberi legitimasi bagi pak Harto untuk memilih Habibie menjadi wapres di tahun 1998. Karena posisi wapres, Habibie berkesempatan menjadi Presiden Indonesia. Aturan konstitus memberi pedoman. Jika presiden berhalangan, wapres otomatis menggantikannya.

Habibie tahu betapa Pak Harto sayang padanya. Habibie tahu betapa pak Harto banyak membuka kesempatan padanya. Habibie juga tahu, jika jalannya menjadi presiden itu sudah garis tangan, itu tetap lewat tangan pak Harto.

-000-

Tapi bagaimana jika situasi terbalik? Apa yang harus Habibie lakukan di masa sulit terhadap Pak Harto? Saat itu, Habibie menjadi Wapres pak Harto di tahun 1998. Namun itu era yang sudah berbeda.

Pak Harto tak lagi sangat berkuasa. Pak Harto menjadi the common enemy. Pak Harto menjadi musuh rakyat Indonesia.

Haruskah pak Habibie memilih karam bersama pak Harto? Ketika pak Harto memilih mundur, selaku murid politik, karena gurunya mundur, yang banyak berjasa, haruskah ia memilih mundur juga? Ataukah ia justru ikut menjadi katalisator untuk memaksa gurunya mundur?

Apa yang terjadi ketika rakyat menuntut pak Harto diadili untuk kasus korupsi? Selaku presiden, ketika kasus besar menimpa guru yang banyak berjasa padanya, haruskah Habibie melindungi sang guru? Ataukah ia ikut mensahkan agar sang guru dituntut di muka hukum?

Yang mana yang harus diambil Habibie: membela guru atau membela kehendak banyak rakyat saat itu? Itulah momen yang paling sulit dari Habibie. Saya membayangkan dilema menjadi Habibie saat itu.

Kita tahu pilihan Habibie. Ia memilih bersedia ikut arus politik baru. Ia bersepakat dengan banyak tokoh, yang akhirnya membuat guru politiknya lengser. Tak hanya lengser, guru politik itu menyerahkan kekuasaan padanya, sesuai garis konstitusi.

Habibie tahu. Semua elit tahu. Pak Harto kecewa dengan sikap Habibie. Pak Harto tak pernah mengucapkan selamat kepada Habibie sebagai presiden.

Kita juga tahu, Habibie memilih ikut arus yang membuat gurunya, pak Harto menjadi terdakwa kasus korupsi. Habibie juga tahu. Betapa kecewanya pak Harto di masa tua.

Pak Harto menjadi pesakitan kasus kosupsi. Seorang murid politik, yang pak Harto besarkan, yang kini menjadi presiden, ikut membuat Pak Harto menjadi pesakitan isu korupsi di ujung usia.

Kekecewaan pak Harto sang Guru bertambah. Timor Timur lepas dari Indonesia. Adalah tangan pak Harto yang sekuat tenaga membuat Timor Timor bagian Indonesia. Kini di tangan murid yang dulu ia bantu tumbuh, legacy pak Harto di Timur Timor justru tamat!

-000-

Datanglah momen itu. Di tahun 2008, pak Harto sakit keras. Pak Habibie juga sudah tidak lagi menjadi presiden.

Habibie ingin menjenguk pak Harto terakhir kali. Ini kunjungan bukan dari mantan presiden kepada mantan presiden. Ini kunjungan seorang manusia biasa kepada guru yang pernah membesarkannya.

Apa yang terjadi? Kita mendengar kabar, entah pak Harto, entah keluarga pak Harto menolak kunjungan Habibie. Alasan resmi yang kita dengar, tim medis pak Harto merasa kunjungan Habibie tak baik untuk kesehatan pak Harto. Kunjungan itu akan membangkitkan emosi pak Harto, yang dapat memperparah sakitnya.

Kasus korupsi Pak Harto di tahun itu, 2008, dihentikan melalui deponir Jaksa Agung. Semua tahu, itu terjadi tidak di era Habibie menjadi presiden. Itu dilakukan di era SBY sebagai presiden.

Sejak menjadi Presiden, hingga akhir hayat pak Harto, Habibie tak pernah lagi diberi kesempatan berjumpa pak Harto.

-000-

Salahkah Habibie yang memilih sikap itu? Memilih bersama rakyat Indonesia melawan gurunya sendiri, pak Harto di tahun 1998, salahkah? Bersama rakyat Indonesia membuat kasus korupsi gurunya diusut, salahkah?

Sejarah tak pernah pasti soal apa yang salah dan apa yang benar. Semua hanyalah pilihan politik, dengan semua konsekwensinya. Setiap individu mengembangkan opini sesuai level kesadaran.

Kadang kita mengungkapkan sejarah tanpa perlu dibebani penilaian benar dan salah. Seperti puisi, kisah sejarah dapat kita nikmati pula sisi emosi personalnya.

Selamat jalan Habibie. Terima kasih atas kiprahmu yang ikut mewarnai sejarah Indonesia. ***

Sept 2019

News Feed