oleh

Hoax Makin Masif, Mahasiswa Lampung Gelar Bincang Melenial Cegah Penyebarannya

Bandar Lampung – Beberapa tokoh mengajak generasi muda turut mencegah penyebaran hoax di media sosial (Medsos). Ajakan itu disamapaikan dalam sebuah diskusi santai bertajuk ‘Bincang Melinial” yang dihelat di Dunkin Donat, Kedaton, Bandar Lampung, Kamis (21/2/2019).

Para tokoh tersebut seperti Heri Wardoyo (Dewan Penasehat Mapancas/Mantan Wakil Bupati Tulang Bawang), Ganjar Jationo (Kabid Diseminasi Informasi Dinas Kominfo Provinsi Lampung), Wulan Suciska (Dosen Ilmu Komunikasi Unila) dan Wiwik Hastuti (Jurnalis Senior Lampung Post/Anggota Muslimat NU Lampung).

Bincang Milenial ini digelar oleh DPP Mahasiswa Pancasila (Mapancas) Provinsi Lampung dengan tema ‘Literasi Digital Bagi Generasi Millenial Menuju Indonesia Anti Hoax’ dan diikuti 47 orang mahasiswa dari BEM Univ. Lampung, Univ. Malahayati, Univ. Darmajaya, Mahasiswa Polinela dan Pengurus Mapancas Lampung.

Dalam Bincang Milenial ini, Ketua DPD Mapancas Provinsi Lampung, Sugirin mengajak anak milenial menjadi agen pencegahan hoax. “Kita mengajak anak milenial menjadi agen pencegahan hoax dengan tidak sembarangan share berita sebelum dilengkapi literasi digital yang resmi,” ajak Sugirin.

Sementara, Kabid Disemninasi Informasi Dinas Kominfo Lampung, Ganjar Jationo dalam kesempatan itu mengatakan bahwa hoax adalah berita bohong atau disinformasi, dimana penyebar dan pembuat hoax tersebut dapat dikenakan UU ITE. Ganjar juga menjelaskan ciri hoax diantaranya dapat mengakibatkan kecemasan, permusuhan dan kebencian, sumber berita tidak jelas dan substansi tidak berimbang.

Narasumber Wulan Suciska, mengatakan saat ini hoax sangat masif disebarkan di media sosial (medsos), khususnya terkait Pilpres 2019. Dimana 92% hoax tersebar di medsos, dan medsos sendiri dimiliki oleh 34% penduduk Indonesia. Jurnalis Senior Lampung Post, Wiwik Hastuti mengajak generasi muda Indonesia untuk lebih kritis dalam mengkonsumsi berita. “Budaya cek, ricek dan kroscek harus dikedepankan, generasi muda harus meningkatkan literasi resmi,” ajaknya.

Dewan Penasehat Mapancas, Heri Wardoyo mengatakan, hoax disebarkan orang jahat tapi pintar yang menyasar masyarakat yang kurang literasi. “Saat ini, hoax identik dengan strategi politik, yakni Firehose of Falsehood yang dilakukan dengan menyebarkan hoax secara masif, kontinyu dan berantai dari berbagai chanel atau sumber, sehingga mampu menenggelamkan fakta yang sebenarnya,” jelas Heri.

Menurutnya, cara menangkalnya dengan memancing keingintahuan masyarakat untuk mencari informasi terkait kebenaran yang ada, juga dengan memberikan informasi bernuansa humor atau jokes. Narasumber lainnya, Londriyano mengatakan, saat ini politik yang digunakan adalah intervensi kebohongan, dimana masyarakat banyak disuguhi dengan hoax yang dikhawatirkan dapat merubah penilaian masyarakat.

News Feed