oleh

EKSTERNALITAS DAN PENGARUH KEBIJAKAN KENAIKAN TARIF CUKAI ROKOK

-Opini-66 views

Jakarta – koranprogresif.co.id – Rokok adalah lintingan atau gulungan tembakau yang digulung atau dibungkus dengan kertas, daun, atau kulit jagung, sebesar kelingking dengan panjang 8-10 cm, biasanya dihisap seseorang setelah dibakar ujungnya. Berbagai jenis rokok mulai kretek, filter, rokok dengan rasa mentol, hingga rokok elektrik kini mudah ditemukan dan menjadi bagian kehidupan manusia.

Keberadaan rokok selama ini selalu menimbulkan pro kontra yang tidak ada ujungnya jika diperdebatkan. Rokok selalu dianggap bermanfaat bagi orang yang merokok dan dianggap sebagai musuh oleh orang yang tidak mengonsumsi dan selama ini terganggu akibat keberadaan rokok.

Banyaknya orang yang berpendapat bahwa rokok mempunyai manfaat bagi mereka dapat dilihat dari konsumsi rokok di beberapa negara masih sangat tinggi walaupun banyak orang yang menganggap rokok sebagai musuh. Konsumsi rokok di Indonesia juga cukup tinggi yaitu tercatat mencapai 1.675 batang per kapita dalam satu tahun.

Selama ini konsumsi rokok menimbulkan berbagai masalah yang besar didalam kehidupan. Bagi para konsumen rokok memang masalah-masalah yang ditimbulkan tidak terlalu dipikirkan karena masalah yang diperoleh akan terkompensasi dengan manfaat dari mengonsumsi rokok.

Merokok juga membuat orang menjadi kecanduan dan sulit untuk berhenti merokok sehingga mereka seperti sudah tidak memperdulikan kesehatan karena rokok sebenarnya mempunyai dampak negatif yang cukup besar bagi tubuh orang yang mengonsumsi.

Manfaat yang didapatkan oleh orang yang mengonsumsi rokok sampai saat ini belum terbukti kebenarannya. Bahkan Kementerian Kesehatan membantah anggapan bahwa rokok mempunyai manfaat dan menganggap bahwa itu hanya alasan para perokok.

Sebenarnya bukanlah rokok yang mempunyai manfaat bagi kesehatan tapi aktivitas menghirup udara dengan teratur yang terjadi saat merokok. Menghirup udara dengan teratur sangat penting bagi kesehatan terutama untuk mencegah stress dan menambah fokus saat melakukan aktivitas.

Rokok selama ini sering diperdebatkan oleh semua orang karena timbulnya eksternalitas negatif. Eksternalitas negatif itu sendiri terjadi karena aktivitas merokok menimbulkan dampak yang tidak terkompensasi.

Merokok menyebabkan eksternalitas negatif berupa besarnya biaya kesehatan yang dikeluarkan karena penyakit yang disebabkan oleh merokok yang meningkatkan biaya pengobatan. Asap yang dihasilkan dari aktivitas merokok sering dikeluhkan karena menganggu orang yang berada disekitar perokok.

Selain itu, banyaknya kejadian kebakaran yang disebabkan karena kelalain perokok dan menurunnya produktivitas orang yang merokok juga menjadi eksternalitas negatif merokok.

Selain eksternalitas negatif yang ditimbulkan, ternyata merokok menghasilkan eksternalitas positif yang disebabkan karena kematian dini dari perokok yang menyebabkan menurunnya program asuransi sosial yang disubsidi oleh pemerintah.

Memang benar para perokok banyak yang menyumbangkan sebagian gaji atau upahnya untuk jaminan sosial dan jaminan kesehatan pada waktu masih bekerja, tetapi setelah tidak bekerja mereka kemudian meninggal, maka mereka tidak menikmati jaminan sosialnya sehingga menguntungkan mereka yang tidak merokok dan itulah yang disebut dengan manfaat kematian atau “The Death Benefit”.

Eksternalitas negatif yang terjadi akibat rokok sebenarnya bisa diselesaikan dengan membuat aturan yang akan meminimalisir dampak negatif dari merokok dan memberikan kompensasi. Aturan yang dapat dibuat untuk mengurangi dampak dari rokok yaitu dengan melakukan penyesuaian besarnya premi asuransi bagi perokok karena mereka akan lebih mudah untuk terkena penyakit yang disebabkan dari rokok agar pemerintah tidak menanggung beban subsidi yang terlalu besar. Penambahan ruangan atau kawasan untuk merokok juga sangat diperlukan agar perokok dapat merokok pada tempatnya sehingga tidak mengganggu orang lain.

Industri hasil tembakau masih memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Sumbangan sektor ini meliputi penyerapan tenaga kerja, pendapatan negara, serta menjadi komoditas penting bagi petani.

Sepanjang 2018, penerimaan cukai rokok menembus hingga Rp 153 triliun atau lebih tinggi dibanding perolehan di 2017 sebesar Rp147 triliun. Penerimaan cukai rokok pada tahun lalu, berkontribusi mencapai 95,8% terhadap cukai nasional.

Hal ini menunjukkan bahwa rokok tidak hanya membawa eksternalitas negatif tetapi juga ikut berperan sebagai salah satu penyumbang penerimaan negara.

Industri rokok di dalam negeri telah meningkatkan nilai tambah dari bahan baku lokal berupa hasil perkebunan seperti tembakau dan cengkeh dan dinilai sebagai sektor padat karya dan berorientasi ekspor, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri rokok sebanyak 5,98 juta orang. Terdiri atas 4,28 juta adalah pekerja di sektor manufaktur dan distribusi, serta 1,7 juta bekerja di sektor perkebunan.

Persoalan tarif cukai juga menjadi persoalan yang tak lepas dari pertumbuhan industri rokok.

Selama ini pemerintah berusaha untuk mengendalikan konsumsi masyarakat terhadap rokok melalui tarif cukai. Hal itu dilakukan agar konsumsi masyarakat terkendali dan tidak menimbulkan eksternalitas negatif yang berlebihan.

Tarif cukai yang diberlakukan sudah beberapa kali mengalami perubahan karena terus dilakukan penyesuaian dan yang terbaru adalah Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati telah menetapkan kenaikan cukai hasil tembakau dan harga jual eceran (HJE) yang akan berlaku pada 2020 mendatang.

Ketentuan tersebut termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 152/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK 146/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Aturan ini ditetapkan pada 18 Oktober 2019 dan diundangkan pada 21 Oktober 2019.

Dengan adanya peraturan menteri keuangan ini cukai rokok dan harga jual eceran rokok akan naik masing-masing sebesar 23 persen dan 35 persen berlaku mulai 1 Januari 2020.

Kenaikan tarif cukai tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap konsumsi rokok di masyarakat.

Hal ini disebabkan karena, permintaan terhadap rokok adalah inelastis yang disebabkan karena para perokok sudah menganggap bahwa rokok merupakan kebutuhan primer mereka sehingga kenaikan tarif cukai yang membuat harga rokok naik tidak akan banyak mengubah konsumsi para perokok. Niat pemerintah untuk mendapatkan penerimaan cukai rokok yang lebih besar nampaknya akan sulit terwujud.

Hal ini disebabkan karena masyarakat akan cenderung menghindari jenis rokok kualitas bagus yang terkena cukai tinggi dan akan lebih memilih jenis rokok yang mengalami kenaikan tarif cukai lebih rendah karena harganya akan jauh lebih murah.

Kondisi tersebut justru akan mengakibatkan penerimaan cukai akan jauh dari target yang sudah ditetapkan karena kenaikan permintaan jenis rokok yang terkena kenaikan cukai lebih rendah tidak akan cukup untuk menutup penurunan penerimaan dari jenis rokok yang terkena cukai lebih tinggi.

Selain itu, kenaikan cukai rokok juga akan menyebabkan keberadaan rokok ilegal akan semakin lebih banyak.

Jumlah industri yang legal memproduksi rokok akan menurun karena berat untuk membeli pita cukai, sehingga kemungkinan besar perusahaan-perusahaan, khususnya yang menengah ke bawah pun akan membeli rokok tanpa pita cukai.

Akibatnya, rokok yang dijual menjadi rokok ilegal, di mana diprediksi bahwa rokok ilegal lebih terpusat di daerah-daerah, dan menyasar konsumen yang menengah ke bawah.

Keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif cukai akan menimbulkan berbagai dampak.

Seharusnya langkah yang harus dilakukan pemerintah untuk mengurangi konsumsi dan eksternalitas negatif dari rokok adalah sosialisasi dan pengarahan di sekolah tentang bahaya dan eksternalitas yang ditimbulkan oleh rokok kepada para remaja yang belum merokok karena mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga sangat rawan untuk mencoba sesuatu hal yang baru termasuk rokok.

Hal itu akan lebih efektif karena para remaja akan mempunyai wawasan tentang rokok dan berpikir dua kali untuk merokok sehingga akan mencegah bertambahnya populasi orang yang merokok.

Selain itu, jika pemerintah ingin meningkatkan penerimaan cukai sebaiknya cara yang dilakukan adalah menaikkan tarif cukai secara perlahan dan bertahap agar tarif yang baru dapat menyesuaikan diri di pasar, sehingga tidak menimbulkan penurunan penerimaan cukai dan bertambahnya rokok ilegal karena banyak perusahaan rokok yang keluar dari industri rokok.

Oleh: Chris Tryanto Marta Purnomo Putro, Mahasiswa D III Akuntansi PKN STAN

News Feed