oleh

Ekspresi Nusantara Untuk Keberagaman Bangsa Indonesia

-Nusantara-391 views

 

Jakarta – Koran progresif.co.id, Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman suku, agama, dan tradisi terbesar di dunia. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, ada 1.331 kelompok suku di Indonesia, sedangkan bahasanya berjumlah 652 bahasa daerah. Jumlah tcrscbut belum termasuk dialek dan sub-dialek.

Bangsa Indonesia dengan keragaman dan kemajemukan itu, tidak dibangun pada satu kelompok mayoritas, melainkan di atas penerimaan atas penghormatan atas keragaman: Bhineka Tunggal Ika. Ada banyak anugerah dari keragaman itu, mulai dari pakaian, musik, tarian, kuliner, hingga cara merias
diri. Bayangkan, dengan jumlah suku yang mencapai ribuan, berarti di Indonesia ada ribuan pakaian adat, seni musik, hingga seni tata-rias wajah.

Hanya saja, seiring dengan bangkitnya konservatisme, terutama dalam interpretasi keagamaan
Yang sempit, ada ancaman terhadap keragaman budaya nusantara itu. Mulai ada yang mcmpersoalkan
pakaian asli Nusantara yang dianggap “terbuka”.

Di mata kaum konservatif ini, pakaian terbuka selain dianggap tidak sopan, juga. menjadi penyebab pelecehan dan kekerasan seksual terhada perempuan. Padahal, sebagian besar kasus kekerasan seksual tidak ada kaitannya dengan cara berpakaian. Buktinya, perempuan yang korban kekerasan seksual adalah: memakai celana atau rok panjang (18 persen), hijab (17 persen) dan baju lengan panjang (l6 persen).

Menanggapi hal tersebut Diena mondong, ketua umum API KARTINI mengatakan ” kita melihat dan mendengar bahwa cara berpakaian busana yang ada di Indonesia itu sangat berbeda – beda. Ada yang tertutup dan ada pula yang terbuka.Nah dari situlah kita bisa melihat begitu banyaknya keberagaman Indonesia. Justru dengan busana tradisional yang beragam itu mengungkap siapa jadi diri kita sebagai bangsa Indonesia yang sangat majemuk, ujar Diena mondong.

Begitu juga dengan seni merias wajah. Jauh sebelum peradaban modern, kosmetik tak sekadar berfungsi untuk melengkapi kecantikan. Berabad-abad silam, kosmetik banyak dipakai sebagai bagian dari ritual keagamaan sekaligus menunjukkan kondisi kesehatan yang baik. Apalagi, Nusantara kaya dengan tanaman atau tumbuhan yang bisa diubah menjadi produk kosmetik.

” Wanita yang merias wajahnya itu tidak hanya tampil cantik, tetapi itu juga dapat untuk menutupi kekurangan-kekurangan percayaan diri wanita tersebut agar dapat tampil confident, tegas Diena lagi.

” Ber-make up juga dapat memberikan tampilan yang bagus bagi para wanita pekerja yang mengharuskan mereka bermake up. dan untuk mematahkan stigma bahwa wanita pesolek itu adalah penggoda, maka ayo bersama – sama kita tonjolkan hal yang positif. dan tidak perlu menanggapi hal – hal yang negatif. Karena stigma penggoda itu adalah salah.bermake up juga ada poin – poin yang positif untuk kaum wanita, jelas Diena lagi.

Dalam konteks kekinian, perempuan yang merias wajah (make up) masih sering diberi stigma negatif, bahwa mereka bukan perempuan yang baik-baik, penggoda, norak, dan sebagainya. Padahal, selain untuk menambah kepercayaan diri, make-up juga terkait dengan kesehatan kulit dan badan. Karena itu, sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional, juga bentuk konkret dari Bhineka Tunggal Ika, kita perlu mempertahankan berbagai warisan kekayaan semua suku-suku nusantara.

Sekjen FORNAS PEREMPUAN, Liza Darmawan Lumy juga mengatakan ” ber-make up itu juga bisa menjadi sebuah ritual. Ber-make up itu ritual dalam mengajar kesehatan tubuh dan kulit juga.karena dari jaman dahulu pun ritual – ritual dalam ber-make sudah menjadi identitas diri.ritual wajah dapat mengekspresikan bahwa ber-make up itu sangat penting, lanjut Liza.

” Ber-make up bukan hanya sekedar untuk kecantikan saja, tetapi ber-make up itu sangat berharga bagi sebagian para wanita.karena dengan ber-make up kita juga bisa membudayakan atau mengexploitasi bahan – bahan tradisional yang banyak digunakan dalam pembuatan make up itu sendiri, tutup Liza.

Untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Aksi Perempuan Indonesia Kartini (API Kartini) dan Forum Nasional Perempuan Bhineka Tunggal Ika (Fomas Btika) akan melaksanakan kegiatan dalam bentuk talk show, fashion show dan beauty class. Kegiatan ini akan digelar pada hari Minggu, 25 Agustus 2019, di Aula Sasono Wiwoho, kediaman BRA Mooryati Soedibyo, di jalan Mangunsarkoro nomor 67-69, Menteng, Jakarta Pusat. Melalui kegiatan ini, kami berharap bisa berkontribusi untuk merawat dan memajukan berbagai kekayaan budaya nusantara, terutama pakaian dan seni tata-rias.

( Angel)

News Feed