oleh

Dituduh Menipu Dalam Proses Jual Beli Tanah, Nenek 95 Tahun di Cirebon Dilaporkan ke Polisi

Cirebon – koranprogresif.co.id – Kisah pilu dialami oleh Wasini, seorang nenek-nenek di Kabupaten Cirebon. Di usianya yang telah memasuki 95 tahun, Wasini justru harus berurusan dengan pihak kepolisian karena dituduh melakukan penipuan dalam proses jual beli tanah.

Menurut Miranti Kusumawardhani Rusyamsi, selaku kuasa hukum Wasini, kliennya dilaporkan ke Polresta Cirebon oleh Yempi yang diketahui adalah seorang istri dari anggota kepolisian.

Miranti pun menjelaskan terkait kronologi sengketa tanah yang menyebabkan kliennya dilaporkan ke polisi.

Menurut Miranti, pada tahun 2010, Wasini menjual tanah seluas 64 meter persegi miliknya kepada salah satu pembeli bernama Suali. Dalam proses jual beli itu, telah dilakukan pengukuran oleh pihak desa dan kwitansi jaul beli pun diketahui oleh Kuwu yang saat itu menjabat.

“Pada rencana awalnya pak Suali
akan membeli seluruh tanah seluas yang ada pada sertifikat, yaitu 220 meter persegi yang beralamat di Blok Desa Gamel dengan SHM nomor 42/Gamel. Sehingga pada saat pembelian tersebut belum dilakukan pemisahan/Split,” terangnya, Kamis (2/12).

“Pada tahun 2015, Suali menyatakan tidak bisa membeli tanah Wasini secara keseluruhan. Kemudian anak Wasini bernama Suwara yang kini telah meninggal menjual sebagian tanah tersebut kepada Yempi. Kwitansi ditandatangani oleh anaknya bu Wasini, yakni Suwara yang kini sudah almarhum,” ujar Miranti.

Dikatakan Miranti, setelah melakukan proses jual beli tanah dengan anak Wasini yakni almarhum Suwara, Yempi kemudian meminjam sertifikat tanah tersebut dengan alasan untuk mengukur tanah. Tapi ternyata, kata Miranti, sertifikat tanah tersebut tidak dilaporkan ke pihak desa oleh Yempi untuk dilakukan pengukuran.

“Pada tahun 2018, tanah yang sudah dibeli Bapak Suali seluas 64 meter persegi dikontrak oleh bengkel selama 2 tahun, dan tidak pernah ada pernyataan dari Ibu Yempi bahwa tanah tersebut miliknya”, ujar Mira.

“Setelah bengkel berjalan, karena suatu hal, tanah tersebut dijual kepada Bapak Sulaiman, dan setelah berjalan 6 bulan kemudian tanah tersebut yang seluas 64 meter persegi itu akan dibangun garasi oleh Bapak Sulaiman,” terang Miranti.

Dikatakan Miranti, persoalan sengketa ini pun muncul ketika Sulaiman ingin membangun garasi di atas tanah tersebut.

“Pada hari pertama pembangunan
garasi, ibu Yempi mengatakan kepada pihak Bapak Sulaiman bahwa harus diberi jarak 10 cm dari tanah milik Ibu Yempi,” kata Miranti.

“Pada hari kedua, Ibu Yempi memperluas jaraknya lagi yang
sebelumnya 10 cm, menjadi 1 tritis atau sekitar 75 cm, dan pada hari ketiga, Ibu Yempi mengklaim bahwa seluruhnya seluas 220 meter persegi adalah milik Ibu Yempi,” ucap Miranti.

Oleh karena adanya sengketa ini, kata Miranti, Sulaiman pun akhirnya memutuskan untuk tidak jadi membeli tanah tersebut.

“Pada sekitar bulan April 2021, Ibu Wasini dilaporkan kepada polisi atas dugaan penipuan, dengan terlapor adalah Ibu Wasini yang mana tidak pernah menandatangani jual beli tersebut,” ungkap Mira.

Menanggapi hal tersebut, Ketua LSM Laskar Merah Putih (LMP), Riyanto mengaku prihatin atas adanya kejadian yang menimpa Wasini.

Riyanto pun menegaskan, pihaknya akan mengawal kasus tersebut demi ditegakkannya keadilan.

“Saya berharap Kapolri, Kapolda dan Kapolres bisa memantau kasus ini,” demikian Riyanto. (Red)

News Feed