oleh

Ambulance Udara Dalam Diskusi Ilmiah RSPAU Dr. Hardjolukito

Penyakit jantung koroner sebagai salah satu penyebab kematian terbesar penyakit di dunia masih menjadi masalah besar terutama bagi penduduk perkotaan. Penderita yang terkena serangan jantung (infark miokard) membutuhkan penanganan reperfusi segera terutama pada pasien dengan rekaman EKG khas dengan peningkatan segmen ST. Metode reperfusi yang dipilih adalah intervensi perkutan yang hasilnya lebih baik daripada dengan tindakan fibrinolisis (penghancuran jendalan darah dengan obat).

Namun tindakan intervensi perkutan akan lebih baik bila dikerjakan dalam waktu 90 menit sejak pasien didiagnosis. Rumah sakit di kota-kota besar di Indonesia banyak yang sudah memiliki fasilitas cathlab untuk melakukan tindakan ini, kendala yang dihadapi adalah kemacetan sehingga untuk mencapai target periode emas tersebut sulit terwujud. Sehingga diperlukan solusi untuk memotong waktu iskemik tersebut dengan pesawat ambulance udara menggunakan helikopeter.

Topik besar ini dibahas pada acara ilmiah bulanan di bidang Kardiologi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) Dr. Hardjolukito Yogyakarta, Kamis (12/09/2019). Hadir pada acara tersebut, dr. Royhan, residen Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah FKKMK-UGM memaparkan skenario kasus seorang penderita serangan jantung di bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang membutuhkan tindakan reperfusi segera.

Perkiraan jarak tempuh dari bandara NYIA ke lokasi rumah sakit yang memiliki cathlab terdekat di Yogyakarta membutuhkan waktu 70 menit pada kondisi tidak macet, sedangkan pada kondisi nyata, jarak yang ditempuh bisa mencapai 2 hingga 3 jam dengan kendaraan darat. Menjawab permasalahan tersebut, dr. Royhan mengusulkan perlunya dibuat layanan Helicopter Emergency Medical Service (HEMS) sebagai solusi mengantar pasien yang mengalami serangan jantung dengan cepat dan aman.

Sependapat dengan hal tersebut, dokter jantung RSPAU dr. Hardjolukito Letkol Kes dr. Margono, Sp.JP (K) menyampaikan waktu yang dapat dicapai menggunakan helikopter memang lebih singkat. Bila ditempuh dari RSPAU ke bandara NYIA memerlukan airtime 30 menit dengan diasumsikan helikopter melaju dengan kecepatan 100 knot dimana laju kondisi paling nyaman untuk mengangkut pasien.

Menyikapi skenario tersebut, Kolonel Kes Dr. Joko, Sp.An selaku dokter senior spesialis anestesi di rumah sakit tersebut menyatakan bahwa pengadaan ambulance udara merupakan ide yang bagus namun diperlukan peran serta dan kerja sama dari pihak terkait seperti Pemda selaku pemangku kebijakan, RSUP Dr. Sardjito selaku rumah sakit pusat rujukan dan RSPAU Dr. Hardjolukito dan Lanud Adi Sucipto sebagai pusat SDM di bidang kedirgantaraan.

Wakil Kepala RSPAU Dr. Hardjolukito dr. Djarot Sp.KJ menambahkan perlunya latihan bersama antara Lanud Adi Sucipto sebagai penyelenggara operasi udara dan RSPAU sebagai penyedia SDM di bidang kesehatan untuk melakukan kegiatan latihan penanganan emergensi dengan skenario klinis agar saat terjadi kejadian sebenarnya, semua personil, peralatan dan alusista sudah siap.

Kesimpulan dari diskusi ilmiah siang ini adalah angka kematian serangan jantung sebanding dengan total waktu iskemik yang sebagian besar disumbangkan oleh lamanya waktu transport. Sebagai solusinya, transport dengan menggunakan helikopter dapat memperpendek waktu dari serangan jantung sampai ke tempat dilakukan tindakan intervensi perkutan.

Transport pasien dengan menggunakan helikopter ambulance udara terbukti aman dan feasible, dibuktikan dengan banyaknya jurnal ilmiah kedokteran yang mengulas hal tersebut. Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu destinasi wisata dunia sudah selayaknya memiliki layanan ambulance udara untuk mengatasi permasalahan kesehatan di kota besar.

News Feed